Ramadan Bukan Ajang Pamer: Fenomena Buka Bersama Yang Kehilangan Makna

Tolak Buka Bersama agar tetap waras
Tolak Buka Bersama agar tetap waras
0 Komentar

KBEONLINE.ID – Setiap menjelang Ramadan, satu tradisi kembali hidup: buka bersama. Undangan berdatangan dari teman sekolah, rekan kerja, komunitas, hingga lingkaran pergaulan lama yang tiba-tiba aktif kembali.

Secara konsep, buka bersama adalah momen silaturahmi. Ajang menyambung yang sempat renggang. Ruang untuk saling mendoakan dan menguatkan.

Namun dalam praktiknya, tidak sedikit yang berubah arah.

Yang awalnya pertemuan sederhana, perlahan menjadi panggung sosial.

Dari Silaturahmi Menjadi Arena Perbandingan

Pertanyaan-pertanyaan klasik selalu muncul.

Sekarang kerja di mana?

Sudah jadi apa?

Gajinya berapa?

Sudah punya rumah atau belum?

Sekilas terdengar wajar. Tetapi sering kali pertanyaan itu bukan sekadar ingin tahu, melainkan ingin mengukur.

Baca Juga:Barcelona Relakan Puncak Klasemen ke Real Madrid, EL Barca Tumbang 1-2 dari Girona‎Emas dan Saham Bukan Lagi Primadona di Tahun 2026? Aset Riil Diprediksi Akan Melejit ‎

Ukuran kesuksesan dipersempit pada angka dan pencapaian materi. Jabatan menjadi identitas utama. Kepemilikan menjadi simbol nilai diri.

Yang terlihat “berhasil” berbicara lebih lantang.

Yang belum mencapai standar sosial memilih tersenyum dan menghindar.

Silaturahmi yang seharusnya menyambung hati, justru berubah menjadi ruang pembuktian status.

Tekanan Tampil Sempurna di Musim Bukber

Buka bersama kini sering identik dengan tempat makan mahal, konsep estetik, dan penampilan yang harus terlihat “naik kelas”.

Ada standar tak tertulis: jangan terlihat biasa saja.

Sebagian orang akhirnya membeli pakaian baru meski lemari masih penuh. Ada yang menggunakan fasilitas cicilan demi menjaga citra. Ada pula yang memaksakan diri hadir meski kondisi keuangan sedang tidak baik, hanya karena takut dianggap tidak solid.

Semua demi terlihat pantas di hadapan orang lain.

Padahal Ramadan adalah bulan pengendalian diri. Bulan menahan keinginan, bukan mempertontonkan kemampuan.

Kebersamaan yang Tergantikan Formalitas

Tidak jarang, suasana di meja makan terasa canggung. Percakapan dangkal. Topik aman. Tawa yang muncul lebih karena sopan santun daripada kedekatan.

Ada yang sibuk memastikan kehadirannya terdokumentasi. Ada yang lebih fokus pada citra daripada makna pertemuan.

Yang tersisa hanyalah formalitas sosial.

Kita duduk berdekatan, tetapi tidak benar-benar terhubung.

Terbentuknya “Kasta” Sosial yang Halus

Tanpa disadari, meja sering terbagi dalam lingkaran kecil.

0 Komentar