KBEOnline.id – Kekurangan RAM dan SSD kayaknya belum mau pergi dalam waktu dekat. K.S. Pua, CEO Phison Electronics, bilang krisis DRAM dan NAND ini bisa aja terus berlanjut sampai 2030, bahkan mungkin lebih lama lagi. Dampaknya lebih berat dari yang dibayangkan banyak pelaku industri.
Pasar Dikuasai Penjual, Pembeli Harus Antre
Dalam obrolan dengan media China, Pua cerita kalau pasar memori sekarang benar-benar di tangan penjual. Beberapa foundry malah minta pembayaran di muka sampai tiga tahun ke depan, cuma buat amankan kapasitas produksi. Cara main kayak gini belum pernah kejadian sebelumnya di industri elektronik modern.
Produsen dari dalam sendiri juga sudah hitung-hitung, pasokan DRAM dan NAND bakal tetap seret setidaknya sampai akhir dekade ini. Jadi, jangan harap harga turun atau stok melimpah dalam waktu dekat—ini bukan masalah musiman, tapi tren yang bisa berjalan lama.
Baca Juga:L’etoile de Paris en Fleur Pamer Trailer Versi Lebih LengkapMarika’s Love Meter Malfunction Rilis Trailer dan Visual Perdana
Ledakan AI Jadi Motor Utama
Permintaan AI dan data center benar-benar bikin pasar memori panas. Infrastruktur komputasi generatif butuh DRAM gede dan NAND super cepat, dalam jumlah gila-gilaan. Satu sistem AI sekarang bisa ngabisin memori yang dulu cuma dipakai ratusan server tradisional.
Tekanan bakal makin berat begitu platform baru, kayak Vera Rubin dari NVIDIA, mulai muncul. Satu lini produknya aja bisa nyerap lebih dari 20 persen produksi NAND global. Itu belum ngitung hyperscaler dan perusahaan besar lain yang terus nambah pusat data.
Konsumen juga kena imbasnya. DRAM buat GPU AI kelas data center ngisap suplai dari lini lain, jadi RAM dan SSD buat PC, laptop, sampai perangkat gaming ikutan terdampak.
Ancaman “Musim Dingin Produk” di 2026
Pua memperkirakan, mulai akhir 2026, banyak perusahaan sistem dan brand dengan margin tipis bakal kelimpungan. Kalau mereka gagal amankan pasokan memori, produk kelas bawah bisa-bisa hilang dari pasaran. Akhirnya, pilihan konsumen jadi makin sempit dan bisa aja ada kekosongan produk.
Sekarang mulai muncul istilah “musim dingin produk” buat dunia teknologi konsumen. Bukan karena nggak ada inovasi, tapi karena komponen penting makin mahal atau susah didapat.
