kbeonline.id – Langkah Persebaya Surabaya memasuki pekan ke-22 BRI Super League 2025-2026 tidak berjalan sesuai harapan. Tim berjuluk Bajul Ijo itu harus menerima kekalahan 1-2 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC pada laga sebelumnya.
Hasil tersebut sekaligus mengakhiri catatan impresif 13 pertandingan tanpa kekalahan yang sebelumnya berhasil mereka pertahankan secara konsisten. Kekalahan itu tentu menjadi pukulan, namun skuad Persebaya memilih untuk tidak larut dalam kekecewaan.
Fokus Alih ke Laga Tandang Kontra Persijap
Kini fokus langsung diarahkan pada laga tandang menghadapi Persijap Jepara. Pelatih kepala Bernardo Tavares menegaskan bahwa kekalahan harus dijadikan bahan evaluasi sekaligus motivasi untuk bangkit.
Baca Juga:Debut Apik Damion Lowe Warnai Kemenangan Dewa UnitedJadwal Super League pekan ke-22: Big Match Persija vs PSM Buka Pekan ke-22 Super League
Menurut pelatih asal Portugal tersebut, respons tim setelah kekalahan jauh lebih penting dibandingkan meratapi hasil. Ia ingin anak asuhnya menunjukkan mental kuat, terutama saat menghadapi pertandingan pertama di bulan Ramadan.
Penyesuaian Intensitas Latihan
Persiapan kali ini memiliki tantangan tersendiri karena berlangsung di bulan suci Ramadan. Oleh sebab itu, tim pelatih melakukan penyesuaian program latihan, terutama dalam hal intensitas dan pengelolaan kondisi fisik pemain yang menjalankan ibadah puasa.
Bernardo menegaskan bahwa menjaga kebugaran sekaligus meminimalisasi risiko cedera menjadi prioritas utama. Ia menyadari bahwa tanpa asupan makan dan minum sepanjang hari, intensitas latihan tidak bisa disamakan dengan periode normal.
Tim pelatih berupaya mengontrol beban latihan agar tetap efektif namun tidak berlebihan. Pendekatan ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan kompetisi dan kondisi fisik pemain.
Komitmen Pemain Jalani Program Ramadan
Penjaga gawang Andhika Ramadhani memastikan seluruh pemain siap mengikuti arahan tim pelatih. Ia memahami bahwa pola latihan selama Ramadan memang berbeda dibandingkan bulan-bulan biasa.
Menurutnya, intensitas latihan cenderung lebih ringan, kecuali jika sesi dilakukan pada malam hari seperti pengalaman musim-musim sebelumnya. Namun, para pemain sudah terbiasa menjalani situasi tersebut setiap Ramadan.
Andhika optimistis adaptasi ini tidak akan mengganggu performa tim di lapangan. Ia menilai pengalaman sebelumnya menjadi bekal penting untuk tetap tampil kompetitif meski berada dalam kondisi berpuasa.
