KBEONLINE.ID – Dunia sepak bola Eropa tak selalu bersih dari tudingan nepotisme. Salah satu kisah paling menarik datang dari legenda Chelsea, Frank Lampard. Ia pernah dicap sebagai “anak emas” yang kariernya melesat karena koneksi keluarga. Namun waktu membuktikan, Lampard menjawab semuanya lewat kerja keras, mental baja, dan prestasi luar biasa.
Awal Karier: Bayang-Bayang Nepotisme di West Ham United F.C.
Lampard memulai karier profesionalnya di West Ham United. Saat itu, manajer klub adalah pamannya sendiri, Harry Redknapp, sementara sang ayah, Frank Lampard Sr., merupakan legenda klub tersebut. Kombinasi ini memicu tuduhan keras dari sebagian suporter yang menilai Lampard hanya mendapat tempat karena faktor keluarga.
Tekanan semakin berat ketika ia diejek dengan julukan “Fat Frank” dan bahkan disoraki saat mengalami cedera patah kaki dalam laga melawan Aston Villa F.C.. Namun, alih-alih menyerah, Lampard justru berkembang. Ia membantu West Ham finis di posisi lima Premier League dan menjuarai Piala Intertoto—sebuah bukti bahwa dirinya bukan sekadar produk koneksi.
Baca Juga:KABAR BAIK! Surat Panggilan PPG Guru 2026 Sudah Hadir, Bagi Guru Silahkan Cek Akun SIM PKB Masing-masing! Kata-kata Sedih dan Terharu Adam Przybek Saat Dipastikan Menganggur di Persib Usai Gugur di Asia
Hijrah ke Chelsea: Awal Era Emas
Tahun 2001 menjadi titik balik. Lampard pindah ke Chelsea dengan nilai transfer besar. Awalnya ia sempat diragukan, apalagi klub sedang mengalami ketidakstabilan finansial. Situasi berubah drastis ketika miliarder Rusia, Roman Abramovich, mengambil alih klub.
Kehadiran gelandang bertahan seperti Claude Makelele memberinya kebebasan menyerang. Puncaknya terjadi saat Jose Mourinho datang dan memberi kepercayaan penuh. Mourinho menyebut Lampard sebagai salah satu gelandang terbaik dunia.
Hasilnya luar biasa. Pada 2005, Lampard membawa Chelsea meraih gelar Premier League pertama mereka dalam 50 tahun. Secara individu, ia finis sebagai runner-up Ballon d’Or dan FIFA World Player of the Year, hanya kalah dari Ronaldinho.
Duka, Loyalitas, dan Mental Baja
Tahun 2008 menjadi momen emosional ketika ibunya meninggal dunia. Dalam kondisi berduka, Lampard tetap tampil di semifinal Liga Champions melawan Liverpol dan mencetak gol penalti penuh haru. Meski akhirnya harus puas menjadi runner-up karena kalah difinal dari Manchester United momen itu menunjukkan ketangguhan mentalnya.
