Begini Sejarah Sholat Tarawih, Istilahnya Ternyata Belum Ada di Zaman Nabi Muhammad SAW

Jamaah melaksanakan sholat Tarawih berjamaah di masjid pada malam Ramadhan,
Jamaah melaksanakan sholat Tarawih berjamaah di masjid pada malam Ramadhan.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG – Sholat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang identik dengan malam-malam bulan suci Ramadhan.

Setiap malam, masjid dan mushala dipenuhi jamaah yang menunaikan sholat ini setelah Isya, menghadirkan suasana khusyuk dan penuh kekhidmatan.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa istilah sholat Tarawih belum dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga:Anggaran Pendidikan APBN 2026 Capai Rp470,46 Triliun, Program MBG Jadi Penyerap TerbesarTanggapi Gugatan Guru Honorer soal Anggaran MBG ke MK, Purbaya: Lemah dan Berpeluang Ditolak

Pada masa Rasulullah, ibadah malam di bulan Ramadhan disebut dengan qiyam Ramadhan, bukan Tarawih.

Dalam berbagai riwayat hadits, Rasulullah SAW menganjurkan umat Islam untuk menghidupkan malam Ramadhan dengan sholat malam.

Meski demikian, beliau tidak memberi penamaan khusus terhadap ibadah tersebut sebagaimana yang dikenal saat ini.

Secara bahasa, kata Tarawih berasal dari bahasa Arab tarwihah yang berarti istirahat. Istilah ini merupakan bentuk jamak dan merujuk pada jeda istirahat sejenak dalam pelaksanaan sholat malam Ramadhan, sebagaimana dikutip dari laman NU Online, Jum’at (20/2/2026).

Awal Mula Istilah Tarawih

Penamaan sholat Tarawih mulai dikenal luas pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Saat itu, Umar bin Khattab mengorganisasi pelaksanaan qiyam Ramadhan secara berjamaah di masjid.

Umar kemudian menunjuk Ubay bin Ka’ab sebagai imam sholat. Pelaksanaannya dilakukan dua rakaat satu salam, lalu diselingi waktu istirahat singkat sebelum melanjutkan rakaat berikutnya.

Baca Juga:Curhat Viral di TikTok, Seorang Wanita Bongkar 2 Tipe Manusia Toxic Saat Tinggal di BaliSholat Tarawih Dimulai Jam Berapa? Ini Waktu Pelaksanaannya Selama Ramadhan 2026

Dari kebiasaan adanya jeda istirahat (tarwihah) inilah istilah Tarawih muncul dan digunakan hingga sekarang.

Para ulama sepakat bahwa perbedaan istilah tidak mengubah esensi ibadah. Baik disebut Tarawih maupun qiyam Ramadhan, tujuan utamanya tetap sama, yakni menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sejak awal, jumlah rakaat sholat Tarawih juga memiliki variasi, mulai dari 8, 18, hingga 20 rakaat.

Seluruh praktik tersebut memiliki dasar dan tidak saling meniadakan.

Dengan memahami sejarah sholat Tarawih dalam Islam, umat Islam diharapkan tidak terjebak pada perdebatan istilah maupun jumlah rakaat.

Sebaliknya, fokus utama adalah menjaga kekhusyukan, keikhlasan, serta semangat menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan amal ibadah terbaik.

0 Komentar