KBEONLINE.ID – Kolak selama ini dikenal sebagai menu takjil paling ikonik saat Ramadan. Hampir di setiap sudut kampung, masjid, hingga rumah-rumah warga, hidangan manis berbahan pisang, ubi, santan, dan gula merah ini selalu hadir menjelang waktu berbuka. Namun di balik cita rasanya yang legit, kolak ternyata menyimpan sejarah panjang sebagai media dakwah Islam di Nusantara.
Kolak disebut bukan sekadar makanan pengganjal lapar pada saat berbuka puasa. Ada nilai simbolik dan filosofi religius yang melekat pada setiap bahan di dalamnya.
Asal-Usul Nama yang Sarat Makna
Sejarawan kuliner dari Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, menjelaskan bahwa kata “kolak” diduga berasal dari bahasa Arab “Khalik” yang berarti Sang Pencipta. Jika penelusuran ini benar, maka sejak awal kolak sudah dirancang bukan hanya sebagai sajian, melainkan sebagai pengingat manusia kepada Tuhan.
Baca Juga:Niat Bangunkan Sahur Berujung Tawuran! Petasan Suar Gegerkan Warga Tanjungpura KarawangCuaca Ekstrem Uji Warga Saat Ramadan: 17 Ribu KK di Kabupaten Bekasi Terdampak
Di masa awal penyebaran Islam di tanah Jawa dan wilayah Nusantara lainnya, pendekatan budaya menjadi strategi utama para ulama. Makanan yang akrab dengan lidah masyarakat dijadikan sarana menyampaikan pesan spiritual secara halus.
Simbolisme dalam Setiap Bahan
Bukan kebetulan jika bahan-bahan kolak memiliki makna filosofis dalam tradisi Jawa yang kemudian dipadukan dengan nilai Islam.
Pisang kepok sering dikaitkan dengan kata “kapok”, yang berarti jera. Filosofinya, manusia diharapkan kapok atau jera melakukan dosa dan bertekad untuk bertobat.
Ubi atau telo pendem secara harfiah berarti “umbi yang terpendam”. Ini dimaknai sebagai simbol mengubur kesalahan dan dosa dalam-dalam, tidak mengulanginya kembali.
Santan dalam bahasa Jawa disebut “santen”, yang kerap diartikan sebagai kependekan dari “pangapunten” atau permohonan maaf. Artinya, manusia dianjurkan saling memaafkan, terutama di bulan suci Ramadan.
Perpaduan bahan ini menjadikan kolak bukan hanya sajian manis, tetapi juga sarat pesan moral tentang tobat, pengampunan, dan refleksi diri.
Strategi Dakwah yang Membumi
Pada masa lalu, para ulama menyadari bahwa pendekatan budaya jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan konfrontatif. Kolak yang menggunakan bahan lokal dan mudah ditemukan menjadi jembatan antara ajaran Islam dan tradisi masyarakat.
