Lewat makanan yang dinikmati bersama saat berbuka, nilai-nilai ketauhidan, introspeksi diri, dan saling memaafkan ditanamkan secara perlahan. Inilah yang membuat kolak bertahan ratusan tahun sebagai bagian dari tradisi Ramadan di Indonesia.
Tetap Ikonik di Tengah Perubahan Zaman
Kini, variasi kolak semakin beragam. Ada kolak labu, kolak biji salak, hingga kolak dengan tambahan kolang-kaling atau durian. Namun esensinya tetap sama: hidangan pembuka yang identik dengan kebersamaan dan refleksi spiritual.
Di tengah modernisasi menu takjil yang kian beragam, kolak tetap menjadi simbol Ramadan yang tak tergantikan. Ia bukan sekadar pengganjal lapar setelah seharian berpuasa, melainkan warisan budaya yang menyimpan jejak dakwah dalam setiap sendok manisnya.
