KBEOnline.id – Rutinitas klasik anak-anak Jepang—pulang sekolah lalu lanjut juku sampai malam—kayaknya sebentar lagi bakal berubah total. Ada perusahaan bernama Luminaris yang baru saja ngenalin ide gila: Virtual Cram School Wish High, platform bimbel digital yang semua gurunya adalah VTuber.
Bukan guru beneran yang berdiri di depan papan tulis pakai kapur, tapi avatar virtual dengan karakter kuat, persona khas, dan—ini penting—punya fans sendiri.
Belajar Serius, Rasanya Livestream
Luminaris sebenernya udah nyoba konsep guru VTuber buat kursus SMP dan pelatihan korporat sebelumnya, tapi Wish High ini levelnya beda. Mereka beneran bikin kurikulum setara SMA, dan semuanya dipegang VTuber.
Baca Juga:Pengguna Discord Lagi Heboh Soal Celah Keamanan VerifikasiWitch on the Holy Night Siap Membawa Sihir ke Bioskop di 2026
Enggak cuma tempelan wajah digital, para pengajar di sini memang VTuber independen yang aktif di YouTube dan platform streaming lain. Jadi, cara mereka ngajar jauh lebih santai, ekspresif, dan nyambung sama anak-anak digital native. Nggak ada lagi suasana kelas yang kaku. Matematika, Fisika, Kimia, sampai Sejarah Dunia, Geografi, Bahasa Inggris, Sastra Klasik—semuanya dikemas dengan visual kece dan storytelling yang seru.
Belajar Tetap Serius, Tapi Interaksinya Lebih Santai
Wish High mulai jalan resmi 1 Maret 2026. Selain modul pembelajaran yang rapi, mereka juga punya channel YouTube khusus buat ngobrol santai antara siswa dan guru virtual di luar jam pelajaran. Kayak nongkrong di ruang digital, tapi tetap ada nuansa edukasinya.
Soal biaya, modelnya langganan bulanan—sekitar 9.900 yen—dan sementara ini masih eksklusif di Jepang. Targetnya jelas: generasi yang udah akrab sama livestream, fandom, dan budaya digital.
Biasanya juku itu identik sama kelas sepi dan tekanan ujian masuk universitas. Di Wish High, suasananya beda total. Lupa deh sama papan tulis; sekarang yang ada overlay animasi. Guru pun hadir sebagai avatar penuh karakter. Belajar tiba-tiba jadi konten yang bikin penasaran, bukan kewajiban yang bikin stres.
Eksperimen ini kayaknya bakal jadi gambaran masa depan pendidikan digital di Jepang. Tinggal satu pertanyaan: bisakah prestasi siswa sekeren desain avatarnya? (*)
