KBEOnline.id – Banyak gamer dulu berharap bisa dapat “RAM China harga miring,” tapi sekarang harapan itu pelan-pelan pupus. Faktanya, DDR5 keluaran brand lokal Tiongkok sekarang harganya nyaris sama dengan merek-merek global. Dulu, selisih harganya bikin heboh komunitas PC. Sekarang? Hampir nggak kelihatan bedanya.
Contohnya KingBank yang pakai chip DRAM dari ChangXin Memory Technologies. Di JD.com, DDR5 32GB 6000 CL36 mereka dibanderol sekitar 3.629 yuan, atau sekitar 8,8 jutaan rupiah. Harganya udah sejajar sama kit DDR5 32GB 6000 dari brand internasional yang dijual di Indonesia atau luar negeri.
KingBank dulu sempat jadi jagoan RAM murah dari China, apalagi pas isu kelangkaan memori dunia lagi panas-panasnya. Bahkan, DDR5 6000 64GB mereka pernah dijual lebih dari 1.000 USD, atau tembus 16 jutaan rupiah. Jadi, anggapan “produk China pasti lebih murah” udah nggak berlaku lagi buat DDR5 generasi sekarang.
Baca Juga:Maret 2026, Hulu Dihujani 9 Anime Baru SekaligusDragon Ball: Age 1000 Mendadak Nongol di Playlist Xenoverse 3
Kenapa bisa begini?
Jawabannya ada di prioritas baru industri memori global. Produsen DRAM dan NAND sekarang lebih ngincar pasar enterprise dan AI, karena untungnya jauh lebih gede ketimbang jualan ke gamer atau pengguna PC rumahan. Kapasitas produksi terbatas, sementara permintaan data center terus naik. Fokus bisnis pun berubah.
ChangXin Memory Technologies sendiri udah mulai alihkan sebagian kapasitas DRAM ke HBM3, memori super kencang yang jadi andalan GPU server modern. Selama AI dan perusahaan teknologi besar terus belanja besar-besaran, produsen memori nggak punya alasan buat nurunin harga RAM konsumen.
Kerja sama dengan vendor-vendor gede kayak HP, Dell, atau ASUS juga lebih soal jaminan suplai jangka panjang, bukan banting harga buat pembeli akhir. Jadi, walaupun RAM China makin banyak di pasar global, harga tetap ngikutin hukum supply and demand di level dunia.
Selama tren AI, data center, dan server terus borong stok memori, harga DDR5 buat gamer bakal tetap tinggi dalam waktu dekat. Negara asal udah bukan penentu harga lagi. Sekarang, yang bisa bayar paling tinggi, dia yang dapat barangnya. (*)
