Tarawih 23 Rakaat Tuntas 17 Menit, Tradisi Lebih Seabad di Pesantren Blitar Tetap Bertahan

Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Kabupaten Blitar, Jawa Timur
Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Kabupaten Blitar, Jawa Timur
0 Komentar

KBEONLINE.ID BLITAR – Suasana berbeda terasa setiap bulan Ramadan di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Jika di banyak tempat salat tarawih 20 rakaat dan witir biasanya berlangsung antara 45 menit hingga lebih dari satu jam, di pesantren ini seluruh rangkaian ibadah tersebut dapat dituntaskan hanya dalam waktu sekitar 17 menit.

Tradisi salat tarawih super cepat ini bukanlah hal baru. Praktik tersebut telah berlangsung sejak tahun 1907, bertepatan dengan masa awal berdirinya pesantren oleh KH Abdul Gofur. Sejak saat itu, pola pelaksanaan tarawih dengan tempo cepat terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi hingga kini.

Dalam pelaksanaannya, jemaah menunaikan 20 rakaat tarawih yang ditutup dengan 3 rakaat witir. Bacaan ayat-ayat Al-Qur’an dilantunkan dengan cepat namun tetap jelas, sementara gerakan salat dilakukan secara ringkas tanpa menghilangkan rukun maupun syarat sah salat. Pihak pesantren menegaskan bahwa tidak ada bagian ibadah yang ditinggalkan, dan seluruhnya tetap sesuai dengan ketentuan fikih.

Baca Juga:LippoLand Perkuat Kontribusi Percepatan Ekonomi dan Penyediaan Hunian Terjangkau melalui HWB Purwakara‎Warga Batujaya Tertangkap Basah Saat Coba Curi Motor di Rengasdengklok ‎

Setiap malam Ramadan, masjid pesantren dipenuhi ratusan jemaah. Tidak hanya santri mukim yang mengikuti salat berjemaah, tetapi juga masyarakat sekitar hingga warga dari luar daerah seperti Kediri dan Tulungagung. Sebagian datang karena penasaran dengan tradisi yang telah berusia lebih dari satu abad ini, sementara yang lain memang sudah rutin mengikuti tarawih di tempat tersebut setiap tahun.

Bagi sebagian jemaah, durasi yang singkat menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi mereka yang memiliki kesibukan atau ingin melanjutkan ibadah lain seperti tadarus Al-Qur’an. Namun demikian, pihak pesantren menegaskan bahwa kekhusyukan tetap menjadi prioritas utama dalam beribadah, meskipun dilakukan dengan tempo cepat.

Pengelola pesantren juga menjelaskan bahwa percepatan hanya berlaku untuk salat tarawih dan witir selama Ramadan. Sementara itu, salat fardu lima waktu tetap dilaksanakan sebagaimana umumnya, dengan bacaan dan gerakan yang normal serta tidak terburu-buru.

Tradisi ini pun menjadi salah satu warna unik dalam keberagaman praktik keagamaan di Indonesia. Di tengah perbedaan metode dan kebiasaan pelaksanaan ibadah, esensi utama tetap dijaga, yakni menjalankan salat sesuai tuntunan syariat. Hingga kini, tarawih 17 menit di Pondok Pesantren Mambaul Hikam tetap menjadi magnet tersendiri setiap Ramadan dan menjadi bagian dari identitas sejarah pesantren yang terus hidup di tengah masyarakat.

0 Komentar