KBEOnline.id – Langkah Pearl Abyss ini mirip seperti menolak undangan VIP—mereka lebih suka bikin panggung sendiri, dengan aturan main sendiri.
Dari bocoran dokumen investor, ternyata Sony sempat nawarin Crimson Desert jadi game eksklusif sementara. Artinya, setahun penuh game ini hanya nongkrong di PlayStation sebelum akhirnya mampir ke Xbox. Bahkan versi PC-nya juga hampir dipegang Sony. Dari sisi promosi, tawarannya komplet: promosi besar-besaran, tampil di acara utama, sorotan dunia. Siapa yang nggak tergoda?
Tapi Pearl Abyss punya rencana lain. Mereka udah pede buat terbitin sendiri. Pengalaman ngelola Black Desert Online ke berbagai negara bikin mereka yakin. Dengan self publishing, semua kontrol tetap di tangan mereka, keuntungan juga nggak perlu dibagi-bagi. Mereka nggak cari sorotan instan—mereka mau punya kendali penuh untuk jangka panjang.
Baca Juga:Yoko Taro Garap Serial Anime Baru EvangelionClassroom of the Elite S4 Tayang 1 April dengan Episode 90 Menit
Menariknya, keputusan ini beda banget sama Shift Up dengan Stellar Blade, yang akhirnya jadi game eksklusif sementara di PlayStation. Dua studio Korea, dua jalan berbeda. Satu cari dukungan platform besar, satu lagi jalan mandiri.
Buat pemain, ini kabar bagus: Crimson Desert bakal rilis bareng di PlayStation 5, Xbox Series, dan PC. Nggak ada lagi nunggu setahun, nggak ada rasa jadi anak tiri cuma gara-gara beda konsol.
Tren ini makin kelihatan di industri game. Studio-studio besar yang udah punya modal dan pengalaman mulai berani bilang, “Kami bisa sendiri.” Eksklusivitas itu memang menggiurkan, tapi jangkauan yang lebih luas ternyata lebih menggoda.
Di dunia fantasi Crimson Desert, Kliff berjuang buat kebebasan. Ternyata, di dunia bisnisnya, Pearl Abyss juga memilih hal yang sama. (*)
