Semua Orang Indonesia Makan Nasi, Tapi Tahukah Bisa Berbahaya Jika Tidak Dikontrol?
Nasi sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya makan masyarakat Indonesia. Bahkan muncul anggapan, “belum makan kalau belum makan nasi.” Namun di balik kebiasaan tersebut, ada sisi lain yang jarang disadari: konsumsi nasi yang tidak seimbang bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Dari Makanan Beragam ke Dominasi Beras
Secara historis, masyarakat Nusantara sebenarnya memiliki sumber karbohidrat yang beragam. Di wilayah timur, sagu menjadi makanan pokok. Di beberapa daerah lain, jagung, singkong, dan ubi-ubian menjadi sumber energi utama.
Namun sejak program swasembada beras pada era 1970-an, nasi perlahan menjadi simbol kemajuan dan standar makanan utama. Perubahan kebijakan tersebut sukses menggeser pola pikir masyarakat hingga nasi dianggap kebutuhan primer.
Baca Juga:Pastikan Stabilitas Ramadan dan Idul Fitri 2026, Bulog Karawang Gandeng Polres Gelar Pangan MurahJadwal Streaming Gratis Liga Champions Malam Ini, Pecinta Bola Siap Begadang Sampai Sahur ASLI Gratis
Seiring waktu, persepsi itu menguat. Tidak makan nasi kerap diasosiasikan dengan belum kenyang atau bahkan dianggap belum benar-benar makan.
Fenomena “Belum Kenyang Kalau Belum Makan Nasi”
Kebiasaan ini melahirkan pola makan unik. Seseorang bisa saja sudah makan mi, roti, atau camilan dalam jumlah cukup, tetapi tetap merasa belum kenyang karena belum menyentuh nasi.
Masakan Indonesia yang kaya rasa—pedas, asin, dan gurih—juga sering kali dirancang untuk dipadukan dengan nasi putih yang rasanya netral. Tanpa nasi, makanan terasa kurang lengkap.
Masalahnya muncul ketika nasi tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan menjadi porsi terbesar dalam satu piring makan.
Bahaya “Double Karbo” yang Jarang Disadari
Ahli gizi menyoroti kebiasaan mengonsumsi “double karbo”, yakni menggabungkan nasi dengan sumber karbohidrat lain dalam satu waktu makan.
Contohnya, makan mi instan dengan nasi, gorengan dengan nasi, atau makanan berbahan tepung seperti seblak dan bakwan yang kembali disantap bersama nasi. Pola ini menyebabkan asupan karbohidrat berlebihan tanpa diimbangi protein dan serat yang cukup.
Nasi putih sendiri memiliki indeks glikemik relatif tinggi, yang dapat memicu lonjakan gula darah dengan cepat. Jika energi tersebut tidak dibakar melalui aktivitas fisik, kelebihannya akan disimpan sebagai lemak dalam tubuh.
