Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko meningkatkan berat badan, memicu resistensi insulin, hingga gangguan metabolik.
Dampak Kesehatan dan Faktor Ekonomi
Pola makan tinggi karbohidrat namun rendah protein juga dikaitkan dengan masalah gizi, termasuk risiko stunting pada anak. Sementara pada orang dewasa, muncul fenomena “skinny fat”, yaitu tubuh terlihat kurus tetapi memiliki lemak berlebih di area perut.
Faktor ekonomi turut memengaruhi. Harga sumber protein seperti daging sering dianggap mahal, sementara nasi dan produk olahan berbasis tepung relatif lebih terjangkau. Akibatnya, banyak orang memilih kenyang dengan karbohidrat daripada memperhatikan keseimbangan nutrisi.
Baca Juga:Pastikan Stabilitas Ramadan dan Idul Fitri 2026, Bulog Karawang Gandeng Polres Gelar Pangan MurahJadwal Streaming Gratis Liga Champions Malam Ini, Pecinta Bola Siap Begadang Sampai Sahur ASLI Gratis
Minimnya edukasi gizi juga membuat sebagian masyarakat lebih fokus pada rasa kenyang dibanding kandungan nutrisi dalam makanan.
Bolehkah Tetap Makan Nasi?
Para ahli menegaskan, nasi bukan musuh. Yang menjadi persoalan adalah pola konsumsinya.
Nasi sebaiknya dikombinasikan dengan sumber protein terjangkau seperti tahu, tempe, dan telur, serta ditambah sayuran sebagai sumber serat. Porsi nasi pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan aktivitas harian.
Dengan pola makan seimbang, nasi tetap bisa menjadi bagian dari menu harian tanpa menimbulkan risiko kesehatan berlebihan.
Pada akhirnya, persoalannya bukan soal meninggalkan nasi, melainkan memahami bahwa keseimbangan nutrisi jauh lebih penting daripada sekadar merasa kenyang.
