Banyak yang Belum Tahu! Ternyata Makanan Populer Indonesia Berasal dari Belanda

Banyak yang Belum Tahu! Ternyata Makanan Populer Indonesia Berasal dari Belanda
Banyak yang Belum Tahu! Ternyata Makanan Populer Indonesia Berasal dari Belanda
0 Komentar

Kastengel, Dari Camilan Eropa Jadi Kue Lebaran Favorit

Kastengel berasal dari kata Belanda kaasstengels yang berarti “batangan keju”. Di negara asalnya, makanan ini biasanya disajikan sebagai camilan gurih pendamping sup atau salad, bukan sebagai kue hari raya.

Di Indonesia, kastengel mengalami perubahan fungsi dan makna. Keju yang dulu dianggap bahan mewah menjadikan kastengel simbol suguhan istimewa bagi tamu. Bentuknya tetap memanjang seperti batang, namun cita rasanya disesuaikan dengan lidah lokal yang cenderung menyukai rasa gurih yang lebih kuat.

Kini, kastengel menjadi salah satu kue wajib saat perayaan besar. Bahkan, banyak keluarga memiliki resep turun-temurun sendiri dengan tambahan topping keju parut melimpah di atasnya.

Baca Juga:‎Instruksi Kapolres Metro Bekasi: Ojol Diminta Jadi Mata dan Telinga di Jalanan‎Instruksi Kapolres Metro Bekasi: Ojol Diminta Jadi Mata dan Telinga di Jalanan

Selat Solo, Jejak Bistik Eropa dalam Balutan Rasa Jawa

Selat Solo diyakini terinspirasi dari hidangan bistik atau steak ala Eropa. Nama “Selat” disebut-sebut berasal dari pengaruh kata Belanda seperti slachtje atau adaptasi dari “salad”. Hidangan ini berkembang di lingkungan Keraton Surakarta yang kala itu berinteraksi erat dengan budaya Belanda.

Jika bistik Eropa identik dengan saus kental dan rasa gurih dominan, Selat Solo tampil berbeda. Kuahnya lebih encer, dengan cita rasa manis yang khas Jawa. Hidangan ini juga dilengkapi sayuran rebus, kentang, telur, dan acar, mencerminkan perpaduan teknik memasak Barat dengan selera lokal.

Perubahan rasa tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa tidak sekadar meniru, tetapi mengolah kembali resep asing agar sesuai dengan karakter kuliner setempat.

Kroket, Tetap Bertahan dengan Ciri Aslinya

Kroket diambil langsung dari nama aslinya dalam bahasa Belanda, yakni kroket. Di Eropa, kroket umumnya berisi ragout daging yang lembut, lalu dibalut tepung panir dan digoreng hingga renyah.

Di Indonesia, konsep dasarnya tidak banyak berubah. Namun variasinya semakin berkembang. Selain daging sapi, kini tersedia kroket isi ayam, sayuran, bahkan keju. Ukurannya pun beragam, dari camilan kecil hingga versi besar untuk hidangan utama.

Kehadiran kroket di berbagai acara, mulai dari hajatan hingga jajanan pasar modern, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kuliner ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

0 Komentar