“Rakyat Iran membayar harga yang mahal atas versi kemerdekaan nasional seperti ini,” kata Nasr.
“Dalam prosesnya, Khamenei kehilangan dukungan dari sebagian besar masyarakat.”
Meski dikenal keras, Khamenei tak sepenuhnya menutup soal kompromi.
Ia menyetujui perjanjian nuklir 2015 atau JCPOA demi meredakan tekanan ekonomi. Namun, keputusan Amerika Serikat di era Trump untuk menarik diri dari kesepakatan tersebut mendorong Iran kembali ke jalur konfrontasi.
Baca Juga:Bukan Madrid atau Barca, Cek Kandidat Terkuat Juara Liga Champions Musim Ini Versi OptaBukan Jordi Cruyff, Pria Ini yang Bikin Maarten Paes Siap Gabung Ajax
Khamenei kemudian memperkuat jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai “poros perlawanan”, mencakup Hizbullah, Hamas, dan Houthi.
Strategi ini menjadikan Iran pemain kunci konflik kawasan, sekaligus target utama Israel.
Ketegangan meningkat pasca perang Israel–Hamas, disusul serangkaian serangan Israel terhadap kepentingan Iran.
Bahkan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sempat melontarkan ancaman terbuka terhadap Khamenei.
