Tak Punya Gaji Tetap, Pendamping PKH di Bekasi Mengadu ke Gus Ipul

Menteri Sosial Saifullah Yusuf
Menteri Sosial Saifullah Yusuf
0 Komentar

KBEONLINE.ID KABUPATEN BEKASI – Sejumlah pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di Kabupaten Bekasi mengaku bekerja tanpa menerima gaji tetap. Mereka meminta Kementerian Sosial dan Pemkab Bekasi memberi perhatian lebih terhadap kesejahteraan para pendamping di lapangan.

Keluhan itu mencuat dalam forum sosialisasi pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) di Gedung Swatantra Wibawa Mukti, Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Bekasi di Cikarang Pusat, Rabu (4/3) malam.

Di tengah upaya pemerintah memperkuat akurasi data bantuan sosial (bansos), suara dari lapangan justru menyoroti sisi lain, para ujung tombak pendataan mengaku belum memiliki kepastian honor yang diterima.

Baca Juga:‎Mensos Gus Ipul Soroti Peran Operator Desa: Akurasi DTSEN Tentukan Nasib Penerima Bansos ‎‎Padahal Dekat Kantor Pemda! Tumpukan Sampah Liar di Sukamahi Dikeluhkan Warga

Menanggapi hal tersebut, Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengakui dukungan bagi operator dan pendamping data desa memang belum maksimal. Pemerintah pusat, kata dia, akan memperkuat koordinasi lintas kementerian untuk memastikan dukungan lebih jelas dan terstruktur.

“Dukungan itu ada tapi memang belum maksimal. Ke depan kami akan MOU dengan Mendagri dan Menteri Desa untuk penguatan data ini,” kata Saifullah.

Pria akrab disapa Gus Ipul ini menyebut penguatan dan pemutakhiran data sebagai “jihad data” demi memastikan bansos benar-benar tepat sasaran. Namun, ia tak menampik bahwa tidak semua operator desa telah terpenuhi hak-hak dasarnya.

“Tidak semua yang memiliki posisi strategis itu telah terpenuhi hak-hak dasarnya, termasuk operator data desa,” tegasnya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja menegaskan pemerintah daerah tidak tinggal diam. Pemkab Bekasi, kata dia, telah mengalokasikan dana “tali asih” bagi pendamping PKH.

“Bahasanya bukan gaji, tapi tali asih. Mereka dapat Rp500 ribu per bulan, dibayar per tiga bulan. Jadi sekitar Rp1,5 juta per trimester,” ujar Asep.

Selain insentif tersebut, Pemkab Bekasi juga berencana memperkuat sarana pendataan melalui program satu desa satu laptop yang ditargetkan terealisasi pada triwulan ketiga tahun ini.

Baca Juga:PC PMII Karawang Kecam Tindakan Aparat yang Menghilangkan Nyawa di Bulan Suci RamadanBeginilah Skema Persib Bandung Hattrick Juara BRI Super League, Persija dan Borneo Mulai Kehilangan Harapan

Asep mengakui tantangan di Kabupaten Bekasi tidak sederhana. Jumlah penduduk tiap desa berbeda, sehingga beban kerja operator pun tidak merata. Ke depan, desa dengan populasi besar berpotensi mendapat tambahan operator.

0 Komentar