“Dulu saya keliling sambil menggendong dagangan. Jam tujuh atau delapan biasanya sudah habis,” tuturnya.
Namun seiring bertambahnya usia, Mak Iyoh kini memilih berjualan dari rumah dengan membuka lapak sederhana agar tidak perlu lagi berkeliling.
Selain menjual jajanan tradisional, ia juga menyediakan berbagai menu lain seperti nasi uduk, lotek, dan soto dengan harga yang tetap terjangkau, yakni sekitar Rp6.000 per porsi.
Baca Juga:Rekomendasi Liburan Lebaran: Glamping Ramah Keluarga dan Mewah di Jawa BaratDari Gerobak Sederhana Jadi Legenda Bandung: Ini Kisah Asal Usul Cendol Elizabeth.
Perjalanan hidup Mak Iyoh dalam mencari nafkah tidak selalu mudah. Ia pernah bekerja sebagai buruh tanam padi dengan upah sekitar Rp15.000 hingga siang hari. Kini, ia memilih fokus berjualan karena faktor usia.
Meski harga bahan baku terus meningkat hingga lebih dari Rp100.000 untuk sekali produksi, Mak Iyoh tetap bersyukur karena dagangannya hampir selalu habis terjual.
“Alhamdulillah selalu ada yang membeli. Dagangan saya jarang sekali tersisa,” ungkapnya.
Bagi Mak Iyoh, berjualan jajanan tradisional tidak hanya sekadar mencari penghasilan, tetapi juga menjadi cara untuk menjaga warisan kuliner yang telah ada sejak lama agar tetap dikenal oleh masyarakat, terutama saat Ramadan tiba.(Aufa)
