KBEonline.id- Seorang anak berinisial N (2,5 tahun) di Karawang mengalami kondisi kesehatan serius setelah menjadi korban kekerasan beberapa waktu lalu.
Selain mengalami gangguan pada mata hingga terancam kehilangan penglihatan, anak tersebut juga menunjukkan trauma berat yang memengaruhi perilaku sehari-hari.
Ibu korban, IP (20) mengungkapkan bahwa kondisi anaknya sempat memburuk dengan sering mengalami tantrum, sulit tidur, dan menangis tanpa sebab yang jelas. Bahkan pada malam hari, korban kerap terbangun dalam keadaan ketakutan.
Baca Juga:Radio dan Software Berbasis AI Ericsson Sudah Meluncur untuk Dorong Jaringan Masa DepanDapatkan Berbagai Layanan di “Lebaran Nusantara 2026
“Sehari-hari tantrum terus, tengah malam bangun, tidak tahu maunya apa,” ujarnya, Rabu (18/3).
Secara fisik, kondisi mata korban juga memprihatinkan. Bola mata sempat terlihat menyusut dan mengeluarkan cairan lengket berbau amis. Meski kini mata sudah bisa terbuka, korban dinyatakan tidak dapat melihat secara normal.
“Dari rumah sakit dibilang tidak bisa melihat 100 persen,” ujar IP.
Korban sebelumnya menjalani perawatan selama satu minggu di RSUD Karawang. Selama perawatan, luka pada bagian lidah disebut membaik dengan sendirinya. Namun, kondisi mata masih memerlukan penanganan lanjutan oleh dokter spesialis.
Rencananya, korban akan dirujuk ke rumah sakit di Bandung untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dengan fasilitas yang lebih lengkap.
Keluarga berharap masih ada kemungkinan bagi anak tersebut untuk kembali melihat, meski hanya sebagian.
Namun, rencana rujukan tersebut terkendala biaya dan transportasi. Keluarga mengaku tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup, terlebih sejak kejadian tersebut sang ibu berhenti berjualan gorengan demi merawat anaknya.
Baca Juga:Tol Japek Km 37 hingga Km 70 Padat Merayap, Rekayasa Contraflow Diberlakukan, Rest Area Km 57 PenuhHari Ini Masuk Puncak Arus Mudik, Tol Japek dan Cipali Diberlakukan Satu Arah
“Kendalanya di biaya sama transportasi. Saya tidak bekerja, biasanya jualan keliling, sekarang tidak bisa karena harus fokus ke anak,” ujar IP.
Selain masalah kesehatan fisik, kondisi psikologis korban juga menjadi perhatian serius. Anak tersebut kini mudah takut, terutama terhadap orang asing, dan menunjukkan perubahan perilaku seperti menjadi lebih agresif dan sering meludah.
Trauma korban semakin memburuk setelah adanya kunjungan dari pihak keluarga pelaku ke rumah. Dalam kunjungan tersebut, korban kembali teringat kejadian yang dialaminya hingga mengalami syok dan ketakutan hebat.
“Pas ada yang bilang nanti kalau sembuh main ke laut lagi, anaknya langsung nangis dan jerit-jerit,” ungkap Saepul, Ketua RT setempat.
