KBEOnline.id – Isu soal AI di dunia game lagi hangat-hangatnya. Soalnya, Strauss Zelnick, CEO Take-Two Interactive, baru saja bilang dengan tegas, teknologi AI nggak bakal langsung bikin sebuah game jadi sukses. Komentar Zelnick ini muncul setelah Google ngepamerin Project Genie, yang sempat bikin heboh karena banyak yang mulai takut AI bisa bikin game sendirian.
Waktu ngobrol bareng The Game Business, Zelnick nggak memungkiri AI itu bantu banget dalam pengembangan, terutama buat ngerjain hal-hal kayak model karakter, tekstur, animasi, atau elemen visual lainnya. Pakai AI, kerjaan memang jadi lebih cepat. Tapi tetap aja, semua itu baru sebatas ‘bahan mentah.’ Yang berat itu justru gimana nyusun gameplay, sistem, terus ngegabungin semua bagian jadi pengalaman main yang bener-bener seru.
Menurut Zelnick, nggak terlalu penting aset itu jadi lantaran AI atau hasil kerja manual berminggu-minggu—semuanya tetap harus dipoles, disusun rapi, dan ditaruh ke dalam game yang desainnya matang. Kalau cuma ngumpulin aset tanpa ada ide kreatif yang jelas, hasilnya ya nggak akan otomatis jadi game sukses.
Baca Juga:Kabar Mengejutkan! OpenAI Resmi Menutup SoraCapcom Pede Andalkan Kreator Asli, Bukan Generative AI
Dia ngasih contoh, game besar kayak NBA 2K atau EA Sports FC. AI bisa aja bikin model pemain atau stadion dalam hitungan jam, tapi bikin serial kayak gitu tetap butuh sentuhan manusia—keputusan desain, penyesuaian gameplay, dan ngerti maunya pasar, itu yang nggak bisa dilakuin sama mesin.
Pas ditanya apakah Project Genie atau teknologi sejenis bisa bantu proyek-proyek besar Take-Two semacam Grand Theft Auto VI, jawaban Zelnick lugas: nggak ngaruh banyak. Semakin rumit gamenya, peran tim kreatif manusia malah makin besar buat ngeramu detail, cerita, dunia, sampai interaksi pemainnya.
Dia juga nyinggung fakta sekarang ini, bikin game makin gampang berkat tools yang canggih. Tiap tahun ribuan game meluncur, tapi yang sukses cuma segelintir. Biasanya datang dari studio gede yang punya modal kuat, atau developer indie yang idenya bener-bener beda dan dieksekusi rapi.
Gampang banget kan mikir, “Ah, nanti tinggal pencet tombol, game jadi sendiri!” Zelnick sih yakin konsep kayak gitu kebangetan naifnya. Ia bandingin sama musik yang dibuat AI—secara teknis rapi, tapi sering kali hambar, nggak punya ciri khas, gampang dilupakan.
