Kerupuk Melarat Jadi Oleh-oleh Wajib Pemudik Motor di Jalur Pantura Bekasi 

Kerupuk Melarat Jadi Oleh-oleh Wajib Pemudik Motor di Jalur Pantura Bekasi 
Kerupuk Melarat Jadi Oleh-oleh Wajib Pemudik Motor di Jalur Pantura Bekasi 
0 Komentar

KBEONLINE.ID KABUPATEN BEKASI – Arus balik Lebaran 2026 mulai terlihat di jalur Pantura Kabupaten Bekasi. Ribuan pemudik sepeda motor memadati ruas jalan menuju Bekasi, Jakarta, Depok, hingga Tangerang.

Di tengah padatnya arus kendaraan, tampak pemandangan khas yang hampir seragam. Plastik besar berisi kerupuk warna-warni tergantung di bagian belakang motor para pemudik.

Kerupuk tersebut dikenal sebagai kerupuk melarat, camilan khas Cirebon yang digoreng menggunakan pasir. Meski sederhana, kerupuk ini menjadi oleh-oleh favorit para pemudik saat kembali ke perantauan.

Baca Juga:Simak Penjelasan Lengkap Cara Dapat Kopi Gratis dari Fore Coffee! Cara Dapat Makanan Gratis di Marugame Udon Begini Syarat dan Ketentuan Lengkapnya! 

“Saya beli oleh-oleh kerupuk di Cikampek karna asik aja negliatnya dicantolin di motor.

Kerupuk saya beli satu plastik Rp 15 ribu, saya beli dua jadi Rp 30 ribu. Setiap tahun saya selalu mudik beli kerupuk ini,” ucap Bayu kepada Cikarang Ekspres saat meneduh di Jalan Teuku Umar, Cibitung, Rabu (25/3).

Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas kedaerahan tetap melekat meski seseorang sudah bertahun-tahun merantau ke kota besar. Kerupuk melarat adalah jembatan penghubung antara hiruk-pikuk Ibukota dan sekitarnya dengan ketenangan kampung halaman. Bagi Bayu, kerupuk melarat ini merupakan sajian khas usai lebaran meski ia tak berasal dari Cirebon.

“Saya dari Ngawi Jawa Timur mau pulang ke tangerang. Sampai Bekasi saya sudah menempuh 15 jam lewat jalur pantura terus. Seneng aja ramai-ramai sama pemudik lainnya sama-sama bawa kerupuk. Juga jadi penyemangat kita di jalan, apalagi saya sendirian,” tambahnya.

Senada dengan Gatot (41) pemudik yang baru saja tiba dari kota kelahirannya yakni Sleman Yogyakarta juga membawa kerupuk melarat. Jika bayu menggantungkan kerupuknya di pegangan atau behel belakang sepeda motornya, Gatot memilih menggantungkannya di stang motor maticnya. Camilan khas Cirebon ini bukan hanya untuknya, ia sengaja membeli lima kantong plastik kerupuk untuk dibagikan ke tetangganya yang tidak mudik.

“Kalau balik ke Bekasi nggak bawa ini, rasanya ada yang kurang. Tetangga juga sudah titip. Ini oleh-oleh wajib, murah meriah tapi ngangenin,” tutur Gatot.

Ribuan plastik kerupuk melarat itu tengah menempuh perjalanan jauh dan sudah menjadi barang wajib bagi para pemudik yang kembali. Warna merah muda, kuning, dan putih dari kerupuk melarat yang digantung berderet menciptakan gradasi warna yang khas di sepanjang jalan raya. Kerupuk tanpa minyak itu akan berakhir di meja-meja makan baik di Jakarta, Bekasi, hingga Tangerang dan menjadi teman makan nasi atau sekadar camilan saat melepas penat setelah kembali bergelut dengan rutinitas ibu kota. (Iky)

0 Komentar