CEO NVIDIA Akui Tak Suka “AI Slop”, Tanggapi DLSS 5

CEO NVIDIA Akui Tak Suka “AI Slop”, Tanggapi DLSS 5
CEO NVIDIA Akui Tak Suka “AI Slop”, Tanggapi DLSS 5
0 Komentar

KBEOnline.id – NVIDIA lagi ramai dibicarakan gara-gara DLSS 5, teknologi grafis barunya yang bikin komunitas gamer gaduh. Istilah “AI slop” makin sering muncul tiap ada yang bahas visual game yang katanya terlalu halus, generik, dan kehilangan ciri khas. Beda dari ekspektasi, CEO NVIDIA Jensen Huang ternyata nggak cuek sama kritik ini.

Waktu ngobrol di podcast Lex Fridman, Huang jujur aja bilang sekarang ini memang banyak konten AI yang hasilnya mirip-mirip semua. Secara teknis, hasilnya keren sih, tapi menurut dia jadi kayak karya seni yang dicetak massal. Rapi, tapi nggak punya jiwa. Jadi dia ngerti kenapa banyak gamer dan kreator resah sama arah perkembangan grafis yang terlalu “bersih” ini.

Tapi, Huang langsung klarifikasi. DLSS 5 nggak pernah dirancang buat hasilin visual yang generik kayak yang orang-orang takutkan. Di balik DLSS 5, AI memang dipakai, tapi basisnya tetap data 3D yang dibangun developer. Jadi, desain dunia, model karakter, dan nuansa artistiknya tetap tangan manusia yang tentuin, bukan AI yang gantiin semuanya. Singkatnya, AI di DLSS 5 itu semacam asisten: dia cuma bantu perbaiki pencahayaan, bukan jadi sutradara yang ngerombak cerita.

Baca Juga:Samsung Luncurkan Galaxy A57 dan A37, Ini Dia!The World Is Dancing Siap Tayang Juli 2026, Fakta Baru Mulai Terkuak

Fungsi utama DLSS 5 memang buat bantu naikin kualitas visual dan performa, bukan buat gantiin artist. Developer punya keputusan penuh, mau pakai fitur ini atau nggak. Jadi, DLSS 5 posisinya lebih sebagai pendukung kerja kreator, bukan pengambil alih.

Walaupun udah dijelasin, keraguan dari komunitas gamer tetap besar. Soalnya, fitur seperti DLSS, Super Resolution, sampai Frame Generation sering dicap jadi “penopang darurat,” apalagi kalau game-nya dari awal kurang optimal. Banyak gamer menangkap kesannya, NVIDIA pakai teknologi ini supaya kekurangan teknis game nggak terlalu keliatan.

Perdebatan makin panas setelah DLSS 5 dipamerkan di Resident Evil Requiem. Sebagian pemain protes, katanya tampilan karakter jadi beda, seolah-olah AI malah ikut “menggambar ulang” identitas visual buatan developer aslinya.

Sekarang, obrolannya udah bergeser. Nggak sekadar soal teknologi, tapi soal rasa juga. Gamer pengen visual tetap tajam dan orisinal, tapi developer perlu alat bantu biar performa game tetap stabil tanpa menurunkan kualitas. DLSS 5 akhirnya jadi seperti jembatan di tengah kedua kebutuhan ini—dan jembatannya masih diuji, kuat atau nggaknya.

0 Komentar