KBEONLINE.ID – Di balik kesederhanaan kabel kecil bernama USB-C, ternyata tersimpan cerita panjang soal “perang standar”, kepentingan bisnis raksasa teknologi, hingga campur tangan pemerintah. Yang terlihat seperti kemajuan teknologi, ternyata juga penuh tarik-menarik kepentingan.
Era Kacau Kabel, Awal Masalah Besar
Sebelum USB hadir, dunia teknologi bisa dibilang “berantakan”. Setiap perangkat punya kabel sendiri—mulai dari port serial, paralel, PS/2, hingga VGA—yang tidak bisa saling digunakan.
Akibatnya, pengguna dipaksa punya banyak kabel hanya untuk satu komputer. Ribet, mahal, dan tidak efisien. Ini jadi masalah global yang akhirnya mendorong lahirnya satu standar baru.
Baca Juga:Yang Mau Kuliah Wajib Baca! Ini Dia Jurusan Kuliah yang Prospek Kerjanya Digaji Puluhan JutaGen Z Wajib Baca! 7 Pintu Rezeki Bisa Bikin Hidup Auto Lancar
USB kemudian hadir sebagai solusi universal. Tapi seiring perkembangan zaman, justru muncul versi baru seperti micro USB dan mini USB yang kembali bikin pengguna bingung.
USB-C, Kecil Tapi Super Canggih
USB-C bukan sekadar kabel biasa. Di balik desainnya yang kecil dan bisa dibolak-balik, terdapat teknologi dengan 24 pin yang mampu melakukan banyak hal sekaligus.
Satu kabel bisa digunakan untuk transfer data super cepat, output video ke monitor, hingga mengisi daya laptop dengan daya besar. Bahkan, teknologi Power Delivery memungkinkan daya hingga 240 watt—cukup untuk laptop gaming.
Inilah yang membuat USB-C disebut sebagai “satu kabel untuk semua”, sesuatu yang dulu terasa mustahil di dunia teknologi.
Apple Melawan, Tapi Kalah oleh Regulasi
Selama bertahun-tahun, Apple Inc. memilih menggunakan kabel Lightning untuk iPhone. Selain alasan desain, ada faktor bisnis besar di baliknya, termasuk royalti dari aksesoris resmi.
Namun, keputusan ini menuai kritik karena dianggap memperparah limbah elektronik. Di sinilah Uni Eropa turun tangan dengan regulasi yang mewajibkan satu standar charger.
Aturan ini akhirnya memaksa Apple menyerah. Lewat iPhone 15, mereka resmi beralih ke USB-C, menandai berakhirnya era Lightning.
Baca Juga:Kasus Kusta di Karawang Meningkat pada 2025, Dinkes Perkuat Deteksi DiniGorengan Pinggir Jalan Ternyata Pakai Strategi “Sultan”: Diam-Diam Kalahkan Kafe Kekinian!
Tidak Semua USB-C Itu Sama
Meski bentuknya sama, ternyata tidak semua kabel USB-C punya kemampuan yang sama. Ini yang sering jadi “jebakan” bagi pengguna.
Kabel murah biasanya hanya bisa digunakan untuk charging biasa dengan kecepatan rendah. Sementara kabel berkualitas tinggi bisa mentransfer data super cepat hingga 40 Gbps dan mendukung output video.
