kbeonline.id – Perjalanan Persis Solo di BRI Super League 2025-2026 memasuki fase krusial. Bulan April 2026 akan menjadi periode penentuan bagi Laskar Sambernyawa dalam upaya menjauh dari zona degradasi.
Dengan posisi yang masih rawan di papan bawah, setiap pertandingan kini terasa seperti “final” yang tidak boleh gagal dimaksimalkan.
Jadwal Padat, Lima Laga Sarat Tantangan
Persis akan menjalani lima pertandingan berat sepanjang April, dimulai dari laga tandang menghadapi PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare (4/4/2026).
Baca Juga:Tavares Tak Mau Ambil Risiko, Bruno Paraiba Diproyeksikan Tak Main PenuhDua Pilar Absen, Persib Hadapi Ujian Berat Lawan Semen Padang
Setelah itu, mereka kembali ke kandang untuk menjamu Semen Padang FC (12/4/2026), sebelum bertandang ke markas Arema FC di Stadion Kanjuruhan (18/4/2026).
Ujian belum selesai. Persis kemudian menjamu Bhayangkara Presisi Lampung FC (22/4/2026) dan menutup bulan dengan laga berat melawan Persija Jakarta di Jakarta International Stadium (27/4/2026).
Rangkaian ini ibarat jalur terjal—lengah sedikit saja, posisi di klasemen bisa langsung tergelincir.
Posisi Klasemen Masih Rawan
Saat ini, Persis berada di peringkat ke-15 dengan 20 poin—hanya satu tingkat di atas zona degradasi. Jarak yang begitu tipis membuat tekanan semakin besar.
Tim-tim seperti Madura United FC dan Semen Padang FC memiliki poin yang sama, sementara PSBS Biak di dasar klasemen hanya terpaut dua angka.
Situasi ini membuat satu kemenangan bisa mengangkat posisi secara signifikan, tetapi satu kekalahan juga bisa langsung menyeret ke zona merah.
TC di Yogyakarta Jadi Modal Penting
Menyadari beratnya tantangan, pelatih Milomir Seslija langsung menggeber persiapan melalui pemusatan latihan (TC) di Yogyakarta.
Baca Juga:Lini Belakang Jadi Sorotan, Persebaya Berbenah Jelang Lawan PersitaBangkit atau Tenggelam, Madura United Hadapi Ujian Berat di Akhir Musim
Program yang berlangsung pada 25–28 Maret ini difokuskan untuk membangun kembali ritme permainan sekaligus meningkatkan kebugaran pemain setelah jeda Lebaran.
Menurut Milo, TC bukan hanya soal fisik dan taktik, tetapi juga membentuk mental juara.
“Tujuannya menciptakan kebiasaan untuk selalu memberi 110 persen, baik di latihan maupun pertandingan,” tegasnya.
Kekompakan Tim Jadi Senjata Utama
Selain peningkatan performa individu, TC juga dimanfaatkan untuk mempererat chemistry antarpemain. Dalam situasi seperti sekarang, kekompakan tim bisa menjadi pembeda.
