Di Balik Dinding Kusam Rusunawa Adiarsa, Warga Bertahan dalam Keterbatasan

Rusunawa Adiarsa
Cat bangunan Rusunawa Adiarsa tampak mengelupas di berbagai sisi. Warna dinding yang memudar, retakan panjang, serta noda lembap menjadi pemandangan yang langsung terlihat dari luar. Sekilas, bangunan ini tampak tua dan seolah terlupakan.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG – Cat bangunan Rusunawa Adiarsa tampak mengelupas di berbagai sisi. Warna dinding yang memudar, retakan panjang, serta noda lembap menjadi pemandangan yang langsung terlihat dari luar. Sekilas, bangunan ini tampak tua dan seolah terlupakan.

Namun, suasana berbeda terasa saat memasuki bagian dalam. Lorong-lorong sempit dipenuhi jemuran pakaian, sementara deretan tanaman kecil di depan kamar menghadirkan nuansa hidup di tengah kondisi bangunan yang kusam. Suara anak-anak bermain pun memecah kesan sepi yang selama ini melekat pada rusunawa yang kerap disebut “angker”.

Di balik stigma tersebut, sekitar 40 kepala keluarga masih menetap dan menjalani kehidupan sehari-hari di sana. Mereka bertahan bukan karena pilihan ideal, melainkan karena keterbatasan ekonomi.

Baca Juga:Karawang Perkuat Upaya Eliminasi Kusta, Dinkes Gandeng NLR Gelar Pelatihan Tenaga KesehatanRatusan Pelajar SD Mengikuti Ajang FLS3N tingkat Kecamatan Serang Baru

Salah satu penghuni, Tomas, yang baru sebulan tinggal di lantai satu, mengaku memilih rusunawa sebagai tempat tinggal karena kondisi yang mendesak.

“Ya karena nggak punya pilihan,” ujarnya, Jumat (10/4).

Dengan biaya sewa Rp200 ribu per bulan, ia menilai rusunawa menjadi opsi paling terjangkau, terutama di tengah kondisi dirinya yang belum memiliki pekerjaan tetap.

“Belum kerja, lagi nyari-nyari. Susah sekarang,” katanya.

Tomas tinggal bersama orang tuanya di kamar sederhana yang menjadi tempat berlindung sementara. Bagi banyak penghuni lain, keputusan tinggal di rusunawa bukan soal kenyamanan, melainkan kemampuan finansial.

Biaya sewa di Rusunawa Adiarsa memang relatif rendah dibandingkan kontrakan di luar. Untuk lantai satu dikenakan Rp200 ribu per bulan, lantai dua Rp150 ribu, dan lantai tiga Rp135 ribu. Sementara itu, harga kontrakan di luar kawasan tersebut bisa mencapai Rp700 ribu per bulan.

Di lantai dua, suasana berbeda terlihat di kamar milik Mimi Triana (53). Ia tinggal bersama suami dan dua anaknya sejak 2020. Kamar yang ia tempati tampak bersih, rapi, dan terang, jauh dari kesan menyeramkan yang kerap disematkan pada bangunan ini.

“Di sini kebanyakan sudah berkeluarga. Kerjanya macam-macam, ada kuli bangunan, tukang parkir. Anak-anak juga masih banyak yang sekolah,” tuturnya.

0 Komentar