Mimi menyebut sebagian penghuni telah menetap cukup lama, bahkan hingga lebih dari satu dekade. Mayoritas berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang memiliki keterbatasan dalam mengakses hunian layak.
Sebelum tinggal di rusunawa, ia mengaku pernah mengontrak selama 12 tahun. Namun, tingginya biaya membuatnya beralih ke hunian yang lebih terjangkau.
“Kalau di luar bisa sampai Rp700 ribu. Di sini lebih murah,” katanya.
Baca Juga:Karawang Perkuat Upaya Eliminasi Kusta, Dinkes Gandeng NLR Gelar Pelatihan Tenaga KesehatanRatusan Pelajar SD Mengikuti Ajang FLS3N tingkat Kecamatan Serang Baru
Meski demikian, kondisi bangunan yang menua menjadi tantangan tersendiri. Kebocoran atap, keterbatasan fasilitas, hingga pasokan air yang tidak selalu lancar menjadi bagian dari keseharian warga.
“Bangunan lama, bocor di mana-mana. Air juga kadang susah,” ujarnya.
Selain itu, Mimi juga menyoroti kurangnya kesadaran sebagian penghuni dalam menjaga lingkungan. Ia menyebut masih ada yang menunggak pembayaran sewa dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan kebersihan bersama.
“Kalau diajak kerja bakti suka kurang kompak,” ucapnya.
Rusunawa Adiarsa juga memiliki latar belakang sejarah yang unik. Bangunan ini disebut pernah difungsikan sebagai kamar jenazah rumah sakit, kemudian digunakan sebagai tempat pengungsian saat banjir 2010, hingga sempat dikontrak oleh sebuah pesantren pada 2015. Stigma masa lalu tersebut membuat bangunan ini lama tidak diminati.
Kini, meski sebagian unit kosong dan kondisi fisik bangunan mengalami kerusakan, kehidupan tetap berlangsung di dalamnya. Anak-anak terus bermain di lorong, dan keluarga-keluarga kecil tetap bertahan menjalani hari.
Bagi Mimi, rusunawa ini bukan sekadar bangunan tua dengan cerita masa lalu, melainkan tempat tinggal yang harus dijaga agar tetap layak huni. Ia berharap adanya perbaikan dari pemerintah, namun juga menekankan pentingnya peran penghuni.
“Harapannya diperbaiki, jadi lebih layak. Tapi ya harus sama-sama,” tutupnya.(Aufa)
