Karawang Dorong Eliminasi Kusta Lewat Program CoZLP, Kolaborasi Internasional Diperkuat

Comprehensive Zero Leprosy Project (CoZLP) yang menyasar wilayah dengan angka kasus tinggi, termasuk Kabupaten
Upaya penanggulangan kusta di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan internasional. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan Comprehensive Zero Leprosy Project (CoZLP) yang menyasar wilayah dengan angka kasus tinggi, termasuk Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
0 Komentar

KBEONLINE.ID KARAWANG – Upaya penanggulangan kusta di Indonesia terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan internasional. Hal ini terlihat dalam pelaksanaan Comprehensive Zero Leprosy Project (CoZLP) yang menyasar wilayah dengan angka kasus tinggi, termasuk Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Senior Program Officer Andrew Newmarch dari The Leprosy Mission Australia mengatakan, kunjungannya ke Indonesia bertujuan memantau langsung implementasi program di lapangan serta memperkuat koordinasi dengan mitra lokal, termasuk Yayasan NLR dan pemerintah daerah. Program ini juga mendapat dukungan pendanaan dari pemerintah Australia.

Menurut Andrew, Karawang memiliki posisi strategis sebagai kawasan industri, namun masih menghadapi tantangan sosial dan kesehatan, termasuk kasus kusta. Ia menilai terdapat peluang besar untuk memperkuat deteksi dini melalui pelatihan tenaga kesehatan serta meningkatkan pemahaman masyarakat terkait penyakit tersebut.

Baca Juga:Di Balik Dinding Kusam Rusunawa Adiarsa, Warga Bertahan dalam KeterbatasanKarawang Perkuat Upaya Eliminasi Kusta, Dinkes Gandeng NLR Gelar Pelatihan Tenaga Kesehatan

“Penting untuk tidak hanya memahami kusta dari sisi medis, tetapi juga dampak sosial seperti stigma dan diskriminasi yang masih melekat di masyarakat,” ujarnya, Sabtu (11/4).

Project Officer Alfa menjelaskan, proyek CoZLP di Karawang dimulai sejak Juli 2025 dan akan berlangsung selama lima tahun. Program ini merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya yang telah dilaksanakan di beberapa wilayah, seperti Kuningan dan Bekasi.

Alfa menyebutkan, program ini memiliki tiga fokus utama, yakni penguatan kebijakan pemerintah, peningkatan upaya pencegahan dan pengobatan melalui pendekatan chemoprophylaxis, serta pengurangan stigma terhadap Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

“Banyak penyintas kusta masih menghadapi diskriminasi karena dianggap sebagai penyakit kutukan. Padahal, kusta bisa disembuhkan jika ditangani sejak dini,” jelasnya.

Sementara itu, Technical Advisor NLR Indonesia, dr Christina Widaningrum menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam mendeteksi kasus sejak awal. Ia mengimbau dokter di puskesmas maupun klinik swasta untuk lebih waspada terhadap gejala kusta.

“Jika menemukan tanda seperti bercak putih atau kemerahan pada kulit, segera lakukan pemeriksaan atau rujuk ke puskesmas agar pasien mendapat penanganan dan obat secara gratis,” ungkapnya.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam jumlah kasus kusta, setelah India dan Brasil. Setiap tahun, lebih dari 10.000 kasus baru ditemukan, meskipun tren menunjukkan penurunan secara bertahap.

0 Komentar