Di sisi lain, Inggris justru datang dengan luka yang jauh lebih menyakitkan. The Three Lions sempat berada di ambang final setelah Anthony Gordon membawa mereka unggul atas Argentina. Namun dalam sepuluh menit terakhir, dua assist Lionel Messi berhasil mengubah jalannya pertandingan. Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez mencetak gol kemenangan Argentina yang sekaligus memupus impian Inggris tampil di partai puncak.
Strategi Thomas Tuchel Dipertanyakan, Harry Kane Akui Mental Tim Runtuh
Kekalahan dramatis dari Argentina langsung memunculkan gelombang kritik terhadap pelatih Inggris, Thomas Tuchel. Banyak pengamat menilai keputusan Tuchel menginstruksikan timnya bermain terlalu defensif setelah unggul menjadi titik balik yang dimanfaatkan Argentina untuk menguasai jalannya pertandingan.
Pendekatan tersebut dianggap menjadi kesalahan fatal. Dengan mundurnya garis pertahanan, Argentina memperoleh ruang lebih luas untuk mengatur tempo permainan hingga akhirnya mencetak dua gol dalam waktu singkat. Inggris yang sebelumnya tampil percaya diri justru kehilangan konsentrasi pada menit-menit penentuan.
Baca Juga:Kuasa Hukum Kasworo Bantah Pernyataan Pihak Epson, Sebut Kepengurusan Koperasi Masih SahDipilih Secara Aklamasi, Rohman Kembali Nahkodai Karang Taruna Desa Ciantra
Harry Kane pun mengakui bahwa timnya kehilangan keberanian untuk terus memainkan sepak bola menyerang setelah unggul. Menurut sang kapten, perubahan mentalitas tersebut menjadi penyebab utama kegagalan Inggris melangkah ke final.
Perebutan Tempat Ketiga Sarat Makna, Bukan Sekadar Laga Hiburan
Meski sering dianggap sebagai pertandingan formalitas, duel Prancis kontra Inggris memiliki arti yang jauh lebih besar. Selain memperebutkan medali perunggu, pertandingan ini menjadi kesempatan terakhir kedua tim untuk menutup perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 dengan hasil positif.
Thomas Tuchel mengakui bahwa tidak ada pemain yang benar-benar ingin berada di pertandingan perebutan tempat ketiga. Namun sebagai atlet profesional, seluruh skuad tetap memiliki tanggung jawab memberikan penampilan terbaik bagi para pendukung yang telah memberikan dukungan sepanjang turnamen.
Didier Deschamps pun memiliki pandangan serupa. Baginya, mengenakan seragam tim nasional selalu menjadi sebuah kehormatan. Karena itu, ia menegaskan laga melawan Inggris bukan sekadar pertandingan pelengkap, melainkan duel yang tetap harus dimenangkan demi menjaga martabat Prancis.
Perpisahan Emosional Didier Deschamps
Atmosfer pertandingan akan semakin emosional karena laga melawan Inggris dipastikan menjadi penampilan terakhir Didier Deschamps sebagai pelatih Timnas Prancis. Setelah sekitar 14 tahun memimpin Les Bleus, salah satu pelatih tersukses dalam sejarah sepak bola Prancis itu akan mengakhiri pengabdiannya.
