RAPAT MINGGON : Desa Kiarapayung sejumlah tenaga kerja pemerintah desa menolak dana bantuan. Untuk desa jika masih mengalami kendalan dalam penggunannya.

KLARI – Turunnya dana desa serta bantuan desa lainnya mengalami kesulitan pelaksanaan penggunaan anggaran. Pasalnya, minimnya anggaran untuk tukang membuat berbagai pelaksanaan terancam gagal dibangunkan.
Seperti yang dialami oleh Desa Kiarapayung sejumlah tenaga kerja pemerintah desa menolak dana bantuan. Untuk desa jika masih mengalami kendalan dalam penggunannya.
Sekretaris Desa Kiarapayung, Rana mengatakan, selalu pusing jika berbagai bantuan dana yang dikucurkan untuk desa datang. Jika bagi desa lainnya bantuan anggaran selalu dinanti, namun tidak bagi Desa Kiarapayung justru, lebih baik tidak ada anggaran untuk pembangunan desa.
“Kalau mau jujur mah mending kaya dulu, tidak ada dana desa apapun jadi desa sifatnya hanya pelayanan saja,” ucapnya.
Lanjut Rana, gimana tidak sulit, kata dia, jika dari besaran anggaran yang sudah diberikan sudah ditentukan pula peruntukannya. Seperti halnya untuk pembayaran tukang pembangunan sudah diplotkan sebesar 50 ribu perharinya.
Sedangkan saat ini sulit bagi desa jika memperkejakan orang dengan upah dibawah Rp 50 ribu. Untuk tukang bangunan rumah saja kata dia sudah diatas Rp 100 ribu perharinya. “Sulit buat cari tukangnya, tidak ada yang mau dikasih upah sekecil itu,” terangnya.
Dengan banyaknya lapangan pekerjaan di Kabupaten Karawang bertumbuhnya industri di tengah perkotaan membuat sejumlah masyarakat memilih. Untuk bekerja di perusahaan jika dibandingkan harus bekerja sebagai tukang kuli bangunan.
“Maka sulit bagi pemerintahan desa jika terus harus memaksakan sesuai dengan aturan. Seharunya untuk anggaran yang sudah diplotkan untuk pembangunan desa harus disesuaikan dengan wilayahnya,” tuturnya.
Meski dalam pelaksanaan pembangunan bersifat swadaya kelola oleh masyarakat setempat. Namun tetap saja tidak banyak warga yang memilih untuk bekerja menjadi tukang. Justru mereka lebih memilih untuk bekerja di tempat lain, dibandingkan harus bekerja demi pembangunan desanya sendiri.
“Mereka mau bekerja asal upah yang diberikan bisa seimbang dengan pekerjaanya minimal 100 ribu,” jelasnya.
Kepala Desa Kiarapayung sendiri menyampaikan bahwa dirinya rela tidak mendapatkan bantuan dana desa. Apapun itu yang penting kata dia pelayanan bagi masyarakat bisa terus berjalan dengan baik. Jika perlu untuk bantuan dana desa kali ini ia lebih memilih untuk menunggu desa lainnya.
“Saya lihat dulu desa yang lain gimana, kalau kita ambil lalu siapa yang mau melaksanakan pembangunannya, mending ngga usah sekalian,” ucapnya. (oib/rie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here