ANTISIPASI BANJIR: Sebanyak 47 titik sungai di Kabupaten Bekasi akan dinormalisasi Pemkab Bekasi untuk mengantisipasi datangnya banjir musiman pada akhir tahun 2021.

CIKARANG PUSAT – Sebanyak 47 titik sungai di Kabupaten Bekasi akan dinormalisasi Pemkab Bekasi untuk mengantisipasi datangnya banjir musiman pada akhir tahun 2021. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi Kabupaten Bekasi, Iwan Ridwan.
”Ada 47 titik normalisasi yang dilakukan tahun ini dan titik itu tersebar semua di 23 Kecamatan. Program normalisasi ini yang diutamakan pada di titik-titik yang sudah pernah terjadi banjir. Sebab, penyebab terbesar banjir di Kabupaten Bekasi karena meluapnya sungai akibat pendangkalan sungai maupun tanggul yang jebol,” katanya. 
Menurut dia, dari data sebelumnya, ada 14 kecamatan yang rawan banjir dan yang paling utama dilakukan normalisasi sungai agar banjirnya bisa berkurang. Berdasarkan hasil pengamatan pihaknya di lokasi banjir, pelaksanaan normalisasi ini cukup signifikan dan sangat diperlukan untuk mengurangi luapan banjir di wilayahnya. 
”Sejauh ini yang kita lihat banjir di permukiman warga karena DAS (daerah aliran sungai) menyempit dan pendangkalan di beberapa sungai di Bekasi,” ucapnya.
Dengan menyempitnya DAS tersebut membuat kesulitan petugas melakukan normalisasi, sehingga normalisasi dilakukan dengan cara manual, yakni menggunakan cangkul.
Proses normalisasi juga terkendala lahan di pinggir kali atau sungai, yang dibuat oleh masyarakat untuk berkebun, kandang ayam, bangunan, dan lainnya. Sehingga, pelaksanaan normalisasi terkendala. ”Diharapkan, masyarakat yang tinggal di pinggir kali, tidak membuat hal-hal yang dapat mengganggu aliran DAS, agar memudahkan normalisasi,” imbuhnya.
Untuk diketahui, Pemerintah kabupaten Bekasi mencatat 21 dari 23 kecamatan di Kabupaten Bekasi masuk wilayah rawan banjir. Warga pun diminta waspada, terlebih hujan deras akan mulai mengguyur wilayahnya dalam rentang waktu ke depan. Apalagi, genangan kerap terjadi saat hujan turun.

Akibat hujan lebat yang turun sejak beberapa waktu lalu mengakibatkan banjir di dua titik yakni Kali Ulu Cikarang Utara dan Kedungwaringin. Kendati tidak sampai mengenangi rumah warga, kondisi ini harus tetap diwaspadai. Bukan tidak mungkin jika hujan dengan intensitas tinggi membuat banjir besar kembali merendam Kabupaten Bekasi.

Bahkan, banjir besar yang terjadi awal tahun lalu membuat jumlah wilayah rawan bencana di Kabupaten Bekasi meningkat dari semula 20 kini menjadi 21 kecamatan dari 23 kecamatan dengan titik banjir berjumlah 157 titik. Banjir di wilayah ini tinggi muka air bisa mencapai lebih dari dua meter.

Terparah terjadi di Pebayuran lantaran tanggul di hilir Citarum jebol sehingga merendam ribuan rumah warga. Lebih dari itu, puluhan ribu warga pun terpaksa mengungsi. Sedangkan hanya dua yang tingkat kerawanannya banjirnya rendah yaitu Bojongmangu dan Cibarusah. Kendati tingkat kerawanan banjir rendah, bukan berarti kedua daerah itu bebas bencana.

Bojongmangu merupakan daerah dataran tinggi sehingga rawan terjadi longsor. Sedangkan Cibarusah hampir saban tahun dilanda bencana kekeringan karena sulit menemukan mata air.Untuk meminimalkan dampak bencana, pihaknya tengah menambah delapan desa tanggap bencana (Destana). (har/mhs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here