JAKARTA – Pestisida kimia sering dijadikan jalan pintas bagi petani untuk mengatasi serangan hama. Namun bahan kimia yang terkandung di dalamnya tidak baik bagi ekosistem, lingkungan hidup, serta lahan petani.

Sebagai usaha menyelamatkan lingkungan dari efek pestisida, Pemerintah Provinsi Jawa Barat menginisiasi Aksi Petani Peduli Perlindungan Tanaman atau Aksi Tali Intan.

Inovasi yang diciptakan tahun 2018 itu merupakan gerakan pengendalian hama penyakit dengan cara memungut hama setiap hari dan dilaporkan kepada Regu Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (RPO). Pengumpulan itu dimaksudkan untuk dihitung jumlah dan mencatat jenis hamanya.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengungkapkan, petani terbanyak mengumpulkan hama penyakit dalam satu bulan, diberi insentif berupa pestisida hayati atau pupuk organik.

“Tujuan Aksi Tali Intan adalah agar serangan hama penyakit menurun hingga dua persen, penggunaan bahan kimia tidak ada, kelestarian lingkungan meningkat, produktivitas tanaman meningkat, serapan pasar terhadap produk meningkat, pendapatan petani meningkat,” ujar Kang Emil, panggilan akrabnya.

Hingga tahun 2020 Aksi Tali Intan berhasil menurunkan serangan hama sebesar 7,57 persen karena jumlah petani yang mengikuti program ini bertambah dari 300 menjadi 2.850 orang.

Dibuktikan juga dengan meningkatnya produktivitas dari 27 persen menjadi 44 persen, meningkatnya serapan pasar terhadap produk dari 43 persen menjadi 85 persen, dan meningkatnya pendapatan petani dari 56 persen menjadi 86 persen.

Program ini berfungsi sebagai gerakan kemandirian petani dalam pengendalian hama penyakit, menyadarkan petani akan pentingnya kelestarian lingkungan, keamanan pangan, dan kesehatan produk yang dihasilkan karena tanpa penggunaan bahan kimia.

“Aksi Tali Intan mampu merubah pola pikir, perilaku dan budaya kerja petani serta menyadarkan petani pentingnya melindungi dan melestarikan lingkungan hidup,” jelas dia. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here