CILAMAYA- Hujan deras disepanjang malam pergantian tahun 2020 kemarin, berdampak pada meluapnya aliran Sungai Cilamaya. Akibatnya, tiga kecamatan di sepanjang bantaran Sungai Cilamaya terendam banjir.

Tak hanya itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang mencatat, tiga Kecamatan lain di wilayah Kota Karawang juga terendam banjir.

“Laporan terakhir, ada enam kecamatan yang terdampak banjir. Sementara, Desa Tegalwaru, di Kecamatan Cilamaya Wetan, jadi yang paling parah,” ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Imat Ruchimat, Rabu, (1/1) kemarin.

Keenam kecamatan tersebut, sambung Imat, diantaranya Kecamatan Cilamaya Wetan, Banyusari, Jatisari, Cikampek, Purwasari, dan Telukjambe Barat.

“Di Cilamaya ada 886 warga dari 284 KK terdampak banjir. Sementara, ratusan warga di Cikampek dan Purwasari sudah diungsikan,” ujarnya.

Masih kata dia, selain rumah warga, ratusan hektare sawah yang belum di panen juga terendam banjir. Akibatnya, para petani terancam gagal panen.

Sebab itu, lanjut Imat, pihaknya langsung menurunkan Pasukan BPBD dan Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk membantu warga yang terdampak banjir.

“Air masih terus meningkat. Warga diimbau selalu waspada. Di sini kita juga sudah siapkan langkah antisipasi,” pungkasnya.

Tokoh masyarakat Desa Tegalwaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, Aruji Ajam Atmaja menuturkan, selama lima tahun terakhir. Banjir yang terjadi di awal tahun 2020 ini merupakan yang terparah.

Selain ratusan rumah dan lahan pertanian, luapan air juga sampai menutupi jalan utama Cilamaya-Cikalong, yang mengakibatkan kemacetan cukup parah.

“Ini banjir terparah selama lima tahun terakhir. Ketinggiannya variatif. Ada yang 50 centimeter, sampai setinggi dada orang dewasa,” ucapnya.

Sementara di Desa Mekarmaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Ketua RW 08 Dusun Kedungasem, Imang Suseno mengatakan, banjir terjadi akibat sejumlah tanggul di Sungai Cilamaya yang melintasi desanya jebol. Akibat tak sanggup lagi menahan debit air yang sangat tinggi.

“Air mulai masuk sekitar jam 10.00 WIB, sekitar setengah jam kemudian, air sudah tinggi dan masuk ke rumah-rumah warga,” jelasnya.

“Debit air sangat tinggi, masuknya juga sangat deras. Warga sudah mulai mengungsi,” imbuh Imang.

Sementara, di Desa Muara, warga dibantu aparatur desa setempat gotong royong berusaha memperbaiki tanggul yang jebol.

“Kalau tanggul ini jebol, airnya bisa masuk ke sawah. Nanti petani terancam gagal panen,” ucap Kepala Desa Muara, Cilamaya Wetan, Iyos Rosita.

“Kami tambal dengan karung berisi tanah. Seadanya saja. Saat ini kami butuh ratusan karung tambahan untuk membuat tanggul sementara,” imbuhnya.

Lain halnya di Kecamatan Jatisari, Kepala Puskesmas Pacing, Ucin Supriadi mengatakan, dilingkungan tempat tinggalnya sudah sekitar 124 jiwa mengungsi, dari 70 rumah atau 88 kepala keluarga disana.

Rabu sore kemarin, kata dia, pihak Puskesmas disibukan dengan evakuasi korban banjir dari Desa Sukamekar. “Kami sudah menangani 14 pasien dari Desa Sukamekar di pos darurat,” ujarnya. (wyd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here