SWAB TEST : Perangkat Desa Muarabaru, Cilamaya Wetan, sedang melakukan tes swab antigen di kantor desa. 

Angka kasus harian Covid-19 di Karawang masih sangat tinggi. Klaster keluarga dan industri, masih menjadi penyumbang terbanyak lonjakan kasus positif covid-19. Dari dua kluster itu, akhirnya mencptakan klaster-klaster penularan baru di pelosok daerah. Aparat desa kelimpungan.

KLASTER covid-19 di pelosok satunya terjadi di Kecamatan Cilamaya Wetan. Bermula dari adanya warga yang positif. Sejumlah kerabat kontak erat dan perangkat Desa Muarabaru di tes antigen oleh puskesmas. Hasilnya, delapan orang dinyatakan positif. 
Kades Muarabaru, Ato Sukanto mengungkapkan, hari itu ada 35 warga dan perangkat desa yang mengikuti swab tes antigen. Salah satu diantaranya adalah kepala desa. 
Dari keseluruhan itu, satu orang perangkat desa dinyatakan positif antigen bersama tujuh orang warga. Hal ini membuat kantor desa untuk sementara ditutup.  “Kalau saya alhamdulillah negatif, satu perangkat saya positif dan sudah diisolasi. Hasil tes tadi, totalnya 8 orang yang positif,” ungkap Ato, Selasa, (29/6/2021).
Sesuai perintah camat, kata Ato, untuk sementara kantor desa ditutup. Meski pun tutup, pelayanan akan tetap berjalan. Meski dari rumah kepala desa. 
“Kalau kantor desa harus lockdown dulu ya, karena memang perlu disteril. Pelayanan tetap akan berjalan dari rumah,” kata dia. 
Sebagai langkah antisipasi terjadi klaster baru, Ato mengakui sudah menyarankan mereka yang positif untuk di isolasi di satu lingkungan. Kemudian, lingkungan itu akan dilockdown selama dua pekan. Agar tidak membahayakan warga lain.
“Kemudian kontak erat 8 warga itu sedang di data dan di telusur, kami berharap penanganannya bisa segera,” harapnya. 
Dihubungi via telpon, Camat Cilamaya Wetan, Basuki Rachmat mengatakan, untuk mengurangi terjadinya potensi penularan. Pihaknya menyarankan semua kepala desa untuk Work Form Home (WFH). 

Meski kantor desa di tutup, kata Camat Basuki, para kades tetap harus melayani masyarakat. Jangan sampai, kata dia, pandemi ini jadi alasan untuk perangkat desa tidak melayani masyarakatnya. 

“Semua desa yang ada pasien covid tutup dulu. Yang di kantor hanya juru tulis dan perangkat kemanan saja. Kepala desa semua kerja di rumah,” ucap Basuki saat dihubungi KBE via telpon. 

“Pelayanan berjalan dari rumah kepala desa. Bukan cuma desa, kecamatan juga begitu. Pelayanan di batasi, tapi masyarakat tetap wajib dilayani,” pungkasnya.(wyd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here