SOSIALISASI: Gaya penulisan jurnalistik makin digandrungi kaum milenilal. Tak ayal, Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jendral Pajak (DJP) Jabar II kembali menghadirkan kegiatan jurnalistik untuk para duta komunikasi pajak di media sosial (medsos) lewat Forum Taxmin, di Hotel Resinda Karawang, Senin (24/2/2020).

Gaya penulisan jurnalistik makin digandrungi kaum milenilal. Tak ayal, Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jendral Pajak (DJP) Jabar II kembali menghadirkan kegiatan jurnalistik untuk para duta komunikasi pajak di media sosial (medsos) lewat Forum Taxmin, di Hotel Resinda Karawang, Senin (24/2/2020).
HUDRI AMIN, Karawang
KEGIATAN tersebut bertujuan meningkatkan wawasan sekaligus memberikan semangat para taxmin di 12 Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama. Yakni, KPP Madya Bekasi, KPP Pratama Cikarang Selatan, KPP Pratama Cikarang Utara, KPP Pratama Cibitung.
Lalu, KPP Pratama Karawang Utara, KPP Pratama Karawang Selatan, KPP Pratama Subang, KPP Pratama Cirebon Satu, KPP Pratama Cirebon Dua KPP Pratama Kuningan, KPP Pratama Majalengka dan KPP Pratama Indramayu.
Nah, satu di antara narasumbernya adalah Pimpinan Perusahaan Karawang Bekasi Ekspres (KBE), Hayatullah. Dia diminta memberikan informasi teknik penulisan berita di media.
Nampak antusias dan mendengarkan secara seksama saat Hayat memberikan meteri jurnalistik. Seperti biasa, ia coba menggugah rasa penasaram para peserta seputar media sampai berita.
“Sudah hampir dipastikan semua orang termasuk yang hadir dalam forum ini sudah mengenal media. Bahkan media sendiri sebagai kebutuhan pokok masyarakat. Ya karena dengan media, kita tahu apa yang sedang terjadi di pelosok negeri,” kata dia mengawali materi.
Menurutnya, dengan perubahan teknologi yang terus berkembang, konsumsi berita tidak hanya dari media cetak ataupun elektronik. Namun, berkembang ke media online atau daring.
“Tentu sekarang kita lebih mudah mengkonsumsi informasi. Cukup berselancar ria di google, kita bisa tahu ada peristiwa apa yang hangat dan viral,” ujar Hayat.
Ia melanjutkan dalam menulis berita harus memahami unsur-unsur sebuah berita. Di mana, resep klasik 5 W + 1 H atau bisa disebut Adik Simba (Apa Dimana, Kapan, SIapa, Mengapa, Bagaimana) masih jadi acuan pemberitaan.
“Enam elemem berita ini wajib ada dalam sebuah berita. Jika hilang salah satu unsur itu tentu kurang sempurna beritanya,” kata dia.
Untuk model berita sendiri, kata Hayat, ada dua yang kerap jadi pedoman yaitu Hard News dan Soft News. “Hard News itu berita yang to the point alias lamgsung dan biasanya menganut piramida terbalik. Sementara Soft News sendiri berupa berita ringan seperti feature, opini dan cerpen. Model berita ini tidak harus pakai piramida terbalik” jelasnya.
Ia pun menambahkan berita itu punya anatomi atau struktur tersendiri. Namun begitu, dalam jurnalistik masih menggunakan jurus piramida terbalik yaitu dari sangat penting sampai kurang penting.
Pertama adalah headline atau biasa disebut judul, lalu dateline atau adanya penanggalan dan penempatan. “Nah terpenting dari berita adalah lead atau teras atau kepala berita. Kunci lead harus lah menarik dan lead bisa diambil dari kesimpulan, peryataan serta kutipan. Dan terakhir tubuh berita berisi uraian fakta,” urainya.
Lantas bagaimana kita menggali ide berita, Hayat kembali menegaskan bahwa dirinya ketika melakukan kerja-kerja jurnalistik selalu menerapkan doktrin Dahlan Iskan, yaitu rukun iman berita.
“Doktrin Pak Bos Dahlan memang banyak dipakai jaringan Jawa Pos termasuk kami. Ya walaupun banyak teori-teori lainya,” ucap dia.
Rukun pertama, ketokohan. Semua peristiwa menyangkut tokoh layak berita. Misalnya Gubernur Jabar Ridwan Kamil membuka forum taxmin. Ini layak diberitakan.
“Rukun kedua, besar. Semua peristiwa yang besar layak berita. Misalnya, banjir di Kota Bekasi menyebabkan kerugian yang besar. Ini layak berita,” lanjutnya.
Ketiga, dekat. Semua peristiwa yang terjadi di dekat kita, meskipun kecil layak berita dibanding peristiwa serupa yang lebih besar tetapi di tempat yang jauh.
“Misal, gempa di Garut menyebabkan longsor lebih layak diberitakan, ketimbang gempa di Jepang yang menelan korban jiwa,” ungkapnya.
Keempat, yang pertama. Semua peristiwa yang baru pertama terjadi, layak berita. Misal, anak kambing bertelinga empat atau Forum Taxmine kali pertama digelar.
“Kelima, human interest. Semua peristiwa yang menyentuh perasaan kemanusiaan seperti siswa SMP Turi di Yogya tewas akibat kegiatan pramuka berupa sisir sungai. Terakhir, bermisi. Setiap berita harus memiliki misi atau tujuan. Misal genjot wajib bayar pajak,” pungkas dia.
Hayat berpesan bahwa menulis berita itu mudah dan sederhana. Karena menurutnya, cukup cari sudut pandang (angle) yang baik serta paling menarik.
“Nah kalau masih bingung mau nulis apa kembali ke rukun iman berita. Kuncinya pebanyak knowladge asset dan latihan terus menerus,” bilangnya.
Diketahui bersama, Forum Taxmin yang digelar hingga Selasa (25/2/2020) itu menyuguhkan kegiatan yang menarik. Sebut saja, Pengelolaan Jaringan Sosial, Graphic Design untuk Publikasi dan Edukasi Wajib Pajak di Medsos, Photography untuk Peliputan Dokumentasi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here