Dua Bulan, Cilamaya Lima Kali Banjir

0

KARAWANG– Sejak awal tahun 2020 Kecamatan Cilamaya Wetan, sudah 5 kali kebanjiran. Disinyalir selain lantaran dataran pemukiman warganya yang sangat rendah, penyebab banjir yang terjadi akibat Kali Cengkring yang merupakan anak Sungai Cilamaya, sudah tak mampu lagi menampung debit air kiriman dari Bendungan Barugbug.

Setiap musim hujan, debit air yang sangat besar dari Barugbug masuk ke Sungai Cilamaya. Dari sana, air di pecah lagi dan masuk ke aliran Kali Cengkring. Karena sudah lama tak dilakukan normalisasi, Kali Cengkring jadi cetek. Selain itu, tanggul-tanggulnya jebol. Alhasil, ketika air kiriman datang, sebagian Cilamaya tenggelam.

Dijelaskan, Kasie Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kecamatan Cilamaya Wetan, Hotib Bahrudin dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tahun 2020, normalisasi kali Cengkring masuk dalam skala prioritas.

“Benar, ini masuk skala prioritas. Karena Kali Cengkring kondisinya sangat urgent. Normalisasinya harus segera,” ujar Hotib, kepada KBE, Senin, (9/3) di ruang kerjanya.

Hotib mengatakan, dalam Musrenbang tahun 2020, setiap desa memiliki 1 prioritas yang akan di bangun dari dana APBD Karawang. Dari sekian banyak titik yang diajukan, pihaknya mendorong agar normalisasi Kali Cengkring didahulukan.

“Karena kalau tak diperbaiki, setiap tahun akan begitu. Banjir lagi banjir lagi,” katanya.

Hotib mengaku, ia menerima keluhan dari Pemerintah Desa Tegalwaru, tentang betapa sulitnya realisasi normalisasi kali tersebut. Padahal, kata Hotib, pihak desa sudah berulang kali mengajukan dalam Musrenbang.

“Makanya, agar tak terkesan musrenbang hanya seremonial belaka. Kita ingin, normalisasi kali cengkring realisasi di tahun ini,” tandasnya.

Masih kata Hotib, pemerintah desa tak boleh menyerah dalam menyerukan perbaikan anak sungai Cilamaya tersebut. Pasalnya, hal itu menyangkut keperluan masyarakat banyak.

“Pemerintah Desa Tegalwaru jangan menyerah. Kalau tahun ini tak realsiasi lagi, kita tekan di tahun depan, terus begitu sampai jadi,” pungkasnya.

Menyikapi hal itu, Pjs Kades Tegalwaru, Euis Herawati menuturkan, tercatat sudah lebih dari tiga kali Pemerintah Desa Tegalwaru mengajukan normalisasi sungai. Baik kepada BBWS, pemerintah daerah, mau pun anggota dewan.

“Tapi itu sampai sekarang belum ada perbaikan. Sudah bingung ibu mau gimana. Mudah-mudahan tahun ini dibangun,” keluhnya.

Euis menjelaskan, akibat tanggul kali yang jebol, serta terjadinya pendangkalan, membuat ribuan rumah warga di empat dusun Desa Tegalwaru terdampak banjir setiap tahun.
“Kerugiannya sekarang sudah tak terhitung,” pungkasnya. (wyd/mhs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here