Hayo Lho, PJT II Diduga Buka Lapak Kotor Jual-Beli Air

0
PENGAIRAN : Plt Camat Ciwet bersama UPTD Pertanian Ciwet, saat menggeruduk Kantor PJT ll Telagasari. (WAHYUDI/KARAWANG BEKAIS EKSPRES)

KARAWANG- PJT II Wilayah IV Telagasasri diduga memubaka lapak kotor jual-beli air. Dugaan itu dicuragai para petanu di Kecamatan Cilamaya Wetan yang sampai saat ini lahan sawah mereka masih mengalami kekeringan. Berbeda dengan para petani di hulu, yang setelah panen langsung bisa massuk lagi pada musimtanam baru.

Kekeksalan para petani di Cilamaya Wetan sudah tak bisa terbendung lagi. Mereka mengaku akan menggeruduk kantor PJT II Wilayah IV Telagasasri dalam waktu dekat ini.

“Petani sudah siap untuk demo pak. Mereka kesal, air di ujung tak pernah besar. Sementara di hulu yang sudah melimpah. Masih ditambah debit airnya,” ungkap Alex, salah satu petani Cilamaya, kemarin, (19/11).

Alex mengungkapkan, sudah berulang kali petani Cilamaya menjerit meminta air ke PJT ll. Namun, hingga kini suara mereka tak juga didengar. “Kita mengadu ke camat dan UPTD. Langsung direspon, kita gruduk kantor PJT ll,” tukasnya.

Kepala Desa Muara Baru, Cilamaya Wetan, Ato Sukanto menambahkan, kecurigaan petani bukan tanpa sebab. Selain pengamat PJT ll untuk wilayah Cilamaya yang hingga saat sulit ditemui, di saat yang sama berapa wilayah lain di bawah tanggung jawab PJT ll seksi Telagasari, sangat melimpah ketersediaan airnya.

Sehingga, sambung Ato, mencul kecurigaan petani Cilamaya memang ika permainan yang membuat air hanya mengalir pada wilayah yang paling besar pemasukannya.

“Kalau tidak ada permainan. Lalu pengebabnya apa? soal teknis? Buktinya, sudah diperbaiki masih tetap begitu saja. Tak ada perubaha,” timpalnya.

Di tempat lain,  Kepala UPTD Pertanian Cilamaya Wetan, Wasma menuturkan, praktik kotor lapak jual-beli air  bukan suatu hal yang mustahil. dilakukan oknum koordinator PJT ll. Praktik macam ini, kata dia, sudah lama terjadi. Namun, kata dia, memang sulit untuk dibuktikan secara data, terkecuali oknum tersebut tertangkap basah saat melakukan kecurangan tersebut.

“Banyak kok praktiknya. Bahkan pengalman saya dulu di Rengasdengklok. Ada oknum pengairan yang digiring dan dipecat. Karena ketahuan curang dalam membagi debir air,” imbuhnya.

Saat di konfirmasi, Kepala PJT ll Seksi Telagasari, Dudung menepis tudingan tersebut. Menurutnya, tak ada istilah jual-beli air di lapangan. Ada pun kondisi kekurangan air di wilayah ujung Cilamaya lantaran dipengaruhi turunnya debit air dan rusaknya bendungan karet. “Tidak ada itu jual-beli air. Tidak benar itu,” katanya.

Dudung menegaskan, apabila tudingan petani Cilamaya itu benar, sebaiknya, kata dia, langsung tangkap dan bawa oknum jual beli air tersebut lalu serahkan ke kantor PJT ll Telagasari untuk diberikan sanksi pemecatan.

“Tangkap saja kalau ada. Serahkan ke saya beserta bukti-buktinya. Kalau benar ada, saya akan berikan sanksi berat,” tegasnya. “Sanksinya akan langsung saya pecat,” imbuhnya.

Di tempat yang sama, Plt Camat Cilamaya Wetan, Entoh Hendra Permana, mengungkapkan, di dua desa ujung Cilamaya, yaitu Desa Muara dan Muara Baru. Areal pesawahannya masih kering. Kata Entoh, sekitar 1.500 lahan pertanian di dua desa tersebut masih kering. Karena itu, ia minta agar Kepala PJT ll seksi Telagasari untuk tegas soal pembagian air.

“Saya minta bapak lebih tegas lagi. Awasi sampai ke lapangan. Kadang yang dilaporkan 180 derajat berbeda dari kenyataan di lapangan,” pungkasnya. (wyd/mhs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here