KARAWANG- Menjelang pelaksanaan Pilkada Karawang yang hanya tinggal menghitung bulan, para simpatisan dan loyalis balonpun maupun balonwabup mulai saling sindir dan saling klaim dukungan, baik secara langsung maupun berupan unggahan dan perang komentar di media sosial.

Soal status petahana, baik Jimmy yang saat ini masih menjabat Wakil Bupati Karawang, apalagi Cellica Nurrchadian yang saat ini masih menduduki kursi Bupati Karawang, loyalis keduanya paling sering mengumpat sindir-sindiran, juga klaim masih di atas angin.

Soal klaim prediksi dukungan dari masyarakat yang masih di atas angin, menilai itu hal biasa dilakukan petahana sebagai siasat perang psikologi menjatuhkan mental para calon lawannya.

“Menggelitik. Dari sudut pandang agama, statement tersebut bisa dikategorikan takabur atau udzub. Intinya, berita ‘hiperbola” kemenangan Cellica sebelum bertanding, merupakan strategi politis dalam mencekoki pikiran warga Karawang agar berhalusinasi tentang hasil Pemilukada Karawang di bulan September nanti,” kata Direktur Karawang Budgeting Control,  Endang Ayat dalam rilis yang diterima KBE.

Menurut Endang, masih terlalu dini untuk membenarkan jebakan klaim kemenangan. Apalagi saat ini, kata dia, Cellica menawarkan posisi cawabup tak hany kepada satu orang. Hal ini, kata dia  menjadi pertanda bahwa Cellica sebagai balonbup petahana ragu-ragu siapa sosok yang akan dipilih untuk mengisi kursi wakilnya di pIlkada nanti, kendati nama Aep Saepullah belakang semakin santer yang bakal dipilih oleh dia.

“Cellica tidak yakin terhadap keunggulan dirinya sendiri, sehingga dia membutuhkan pasangan yang dianggap mampu menutupi kelemahannya, terutama sekali untuk mensupport kekuatan jejaring sosial dan kebutuhan logistik,” kata dia.

Di saat yang sama, kata Endang, berdasarkan hasil survei yang ia klaim sudah terima dari salah satu lembaga survei, angka yang menyukasi Cellica berada di angka 50 persenan. Dengan waktu menjabat darimulai wakil bupati, plt bupati, sampai sekarang bupati atau lebih dari lima tahun, angka 50 persenan, kata Endang sangatlah minim.

Belum lagi, calon lawan yang sudah terang-terang mulai berani muncul dan terjunke masyarakat, membuka kemungkinan tersus mengerus angka yang ada.

Cellica sudah berkuasa selama lima tahun, dan selama itu pula ia bersosialisasi (berkampanye) menjajakan dirinya. Tentu jauh berbeda dengan cara menilai kita terhadap figur-figur yang muncul berkampanye dengan waktu relatif pendek,” kata dia.

“Mayoritas responden pemilih cellica berasosiasi (faktor yang muncul dalam benak) pada branding personal, semisal dianggap humbel, cantik, sopan, ramah, bijaksana, merakyat, dan sejatinya penilaian-penilaian seperti itu diarahkan pada setiap manusia, bukan hanya jadi tolak ukur dalam memilih pemimpin. Ironis memang, mereka yang memilih Cellica hanya disebabkan mengenalnya sebagai BUPATI mencapai 71%., sedangkan yang menganggap bagus kinerjanya hanya 0,3%,” timpalnya.

Lalu Endang pun memungkasi penilaianya dengan, “Kesimpulannya, bahwa Pilkada Karawang yang menurut beberapa pihak sudah bisa dipastikan pemenangnya, justru menurut kami akan berjalan lebih seru dibandingkan dengan Pilkada periode lalu.”  (rls/mhs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here