KARAWANG– Kabar adanya permintaan anggaran sebanyak Rp 1,3 M untuk membeli mesin penghancur lemak di klinik kecantikan milik RSUD Karawang dinilai oleh Karawang Budgeting Control (KBC) hanya menjadi pemborosan anggaran dan tak layak disetujui TAPD amupun badan anggaran DPRD Karawang.
Direktur KBC Endang Ayat MT menilai program ini tidak tepat, lantaran tidak menyentuh problem masyarakat bawah Karawang yang butuh prioritas pelayanan kesehatannya dari Pemkab Karawang.
“Kami memandang klinik kecantikan di RSUD tidak tepat adanya, mengingat prioritas pelayanan rumah sakit umum mestinya fokus masyarakat menengah ke bawah,” ungkapnya.
Dijelaskan, anggaran yang dihabiskan klinik kecantikan atau Poli Kecantikan RSUD sudah menelan kurang lebih anggaran 11 miliar. “Kami pertanyakan juga berapa PAD yang di setor poli kecantikan pada kas daeerah,” ujarnya lagi.
Di tempat terpisah Wakil Direktur RSUD Karawang, Wahidin menyebut anggara yang sudah dihabiskan untuk klinik kecantikan RSUD Karawang angkanya tidak sebesar yang ungkapkan KBE.
Sementara itu, Fitra Hergyana, Dokter Spesialis lulit dan kelamin RSUD Karawang yang juga Kepala Poli Kecantikan RSUD kepada pers menjelaskan, di tengah pandemi covid-19, jumlah yang tertular penyakit kelamin meningkat dua kali lipat di Kabupaten Karawang.

Dijelaskan, hasil pendataan Skin17DR, komunitas dokter spesialis kulit dan kelamin jebolan Unpad menunjukkan infeksi menular penyakit kelamin meningkat dua kali lipat. Di Karawang misalnya, sebelum pandemi berlangsung, kunjungan pasien sakit kelamin sekitar enam orang per bulan. Saat pandemi bisa sampai 15 orang. 

“Ada trend kenaikan rata-rata dua kali lipat. Sebelum pandemi berlangsung, kunjungan pasien sakit kelamin sekira enam orang per bulan. Saat pandemi bisa sampai 15 orang,” ujar Fitra. 

Lanjut Fitra, para pasien yang terjangkit adalah pria lajang yang belum menikah. Saat ditelusuri, kata Fitra, para pria ini tertular penyakit kelamin dari wanita pekerja seks komersil. “Para pasien pria mengaku tak punya istri. Mereka sakit kelamin karena ‘jajan’ atau menyewa jasa PSK,” jelas Fitra. 

Fitra menuturkan, para pasien ini mengeluh borok pada kelamin, bengkak pada buah zakar, bahkan kleuar nanah dari kelamin hingga dubur. Adapun penyakit yang dialami pasien biasanya sifilis, gonore, chalamydia,  dan trychominiasis. 

Jika tak diobati, kata Fitra, para pasien terancam mengalami kemandulan, kebutaan, bahkan kematian. “Tapi umumnya, penyakit ini bisa disembuhkan apabila ditangani secara dini,” ungkapnya. 

Selain di Karawang, peningkatan pasien sakit kelamin juga terjadi di sejumlah daerah. Hal itu terpantau oleh anggota Skin17DR+ yang tersebar dan praktik di Sumatera, Banten, Bandung dan Lombok. 

“Trend kenaikan infeksi penyakit kelamin saat pandemi juga terjadi di sejumlah daerah. Itu hasil pendataan komunitas kami,” kata Fitra yang juga jubir Satgas Covid-19 di Karawang. 

Menurut Fitra, salahsatu penyebab peningkatan penyakit kelamin adalah intensitas hubungan seksual yang meningkat saat pandemi.
“Intensitas itu ada. Jadi saat pandemi ini banyak karantina, sehingga orang banyak waktu untuk berhubungan badan,” ujar Fitra. 

“Kalau yang bener kan angka kehamilan meningkat. Tapi kalau yang nakal-nakal, pengakuan pasien rata-rata setelah kencan online,” pungkasnya. (red) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here