INFRASTRUKTUR RUSAK: Ratusan petani di Desa Cikuntul kesulitan mengangkut hasil pertanian disebabkan akses jalan yang hancur tak berbentuk.

KARAWANG- Ratusan petani di Desa Cikuntul kesulitan mengangkut hasil pertanian disebabkan akses jalan yang hancur tak berbentuk. Apalagi saat hujan turun, jalan berubah serupa kubangan kerbau. Akibatnya, proses pengangkutan hasil panen pun tersendat.
Kondisi tersebut tak sekali, dua kali dikeluhkan oleh para petani di sana. Tak terhitung berapa kali keluhan dilayangkan ke pemerintah daerah agar tersentuh program jalan usaha tani (JUT), namun hingga kini tak pernah ada realisasi.
“Biasanya ojek pengangkut padi sepuluh ribu karena jalan jelek jadi dua puluh ribu, bahkan tiga puluh ribu,” kata petani di sana, Sudrajat saat ditemui KBE, senin (17/1/2022). 
Pantaun KBE di lapangan, ada ratusan motor yang terparkir satu jalur lantaran jalan yang bisa dilewati saat hujan turun hanya satu jalur jalan setapak, sisanya tak bisa dilewati karena berubah menjadi kubangan lumpur.
Para petani yang tidak memilik uang untuk menyewa jasa pengangkutan gabah hasil panen terpaksa menangkut sendiri tanpa menggunakan alat bantu apa pun. Gabah-gabah itu diangkut menggunakan bahu mereka menyebrangi irigasi.
“Yang gabisa bayar harus rela memikul hasil panen, dan ada juga yang menarik hasil panen dengan tambah di saluran irigasi namun hal tersebut membuat padi murah karena basah,” kata sudrajat. 
 Di tempat yang sama Kepala Desa Cikuntul Kasman Ebod merasa perihatin dengan kondisi  hasil panen masyarakatnya karena sudah dipastikan merugi. Padahal kata dia, Karawang adalah dicap sebagai kota lumbung padi, namun insfrastruktur penopang pertaniannya masih sangat memprihatinkan. 
“Kami ingin menyejahterakan petani, melihat jalan yang seperti ini (jelek,red) mereka pasti mengeluh dan merugi. Padahal Karawang Kota lumbung padi,” kata Ebod. 
Kondisi jalan yang tidak memadai itu, berada di Dusun Cikuntul Barat dengan jarak tiga kilo meter padahal luas area pesawahan sekitar 370 hektare dan sering menghasilkan hasil panen yang melimpah.
“Tolong perhatikan nasib petani pertama jalan, kedua pupuk, ketiga harga padi jangan sampai anjlok,” sambung Ebod. 
Ebod juga berharap program JUT dapat direalisasikan di desa yang ia pimpin, karena desanya belum sekali pun tersentuh program JUT. 
“Coba program JUT adakan di desa kami, karena jalan untuk sektor pertanian kami belum dapat,” pungkasnya.  (cr1/mhs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here