Partisipasi Pemilih Ditaksir Rendah, Pemenang Ditentukan Mobilisasi ke TPS

KARAWANG– Pilkada Karawang makin dekat. Tiga kubu pasangan calon (paslon) sama-sama mengaku unggul atas paslon lainnya. Hanya saja klaim kemenangan ketiga kubu semuanya berdasarkan survei internal yang sampai saat ini belum ada satupun yang mau publis ke pulk.
Sementara sejumlah pengamat menganalisa semua paslon di Karawang masih punya peluang sama untuk memenangkan pilkada. Analisa itu berdasarkan survey bahwa massa mengambang di Karawang sangat tinggi, yakni mendekati 40 persen dari jumlah pemilih.
“Mungkin karena pandemi, kampanye paslon relative belum merasa sampai ke akar. Sehingga massa mengambang masih sangat tinggi, sekitar 40 persen dari keseluruhan pemilih,” ujar pengamat politik, Umang Rkmana.
Ia juga menjelaskan, kemangan pilkada Karawang akan ditentukan oleh mobilisasi massa ke TPS saat pencolosan berlangsung. “Paslon yang punya jaringan terluas dan paling mengakar ke bawah dan melakukan mobilisasi massa ke TPS secara massif lah yang akan unggul,” terangnya.
Sebelumnya Lembaga Survei Indonesia (LSI) melansir hasil survei terbaru yang mengindikasikan tingkat partisipasi pemilih pada pilkada serentak 9 Desember 2020, akan cenderung sedikit.
Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan mengungkapkan, hasil survei menunjukkan hanya akan ada 20 persen sampai 46 persen calon pemilih yang akan datang ke tempat-tempat pemungutan suara pilkada.
“Riset kami di sejumlah daerah juga menyertakan pertanyaan, kalau pilkada digelar Desember, apakah warga mau datang atau tidak? Sebanyak 20 persen sampai 46 persen responden di masing-masing daerah menjawab tidak,” kata Djayadi.
Menurutnya, jumlah pemilih yang datang ke TPS pada pilkada serentak nanti menurun diakibatkan pandemi virus corona covid-19.
Banyak responden risetnya mengungkapkan rasa takut terinfeksi virus corona apabila mendatangi TPS pilkada. Bila hasil risetnya tersebut tepat, maka persentase partisipasi rakyat dalam pilkada 2020 akan menjadi yang terendah dari tiga gelaran sebelumnya. Persentase partisipasi konstituen dalam pilkada 2018 mencapai 73,24 persen.
Sementara pilkada 2017, partisipasi publik mencapai 74,2 persen. Sedangkan tahun 2015, sebanyak 70 persen calon pemilih datang ke TPS.
“Tentu secara politik menjadi pertanyaan kalau pilkada ini terlalu tajam penurunan partisipasinya. Bukan karena pemilih tidak mau ke TPS, tapi mereka takut lantaran pandemi, ” pungkasnya. (red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here