Tapi Nelayan Cilamaya masih Enggan Melaut

KARAWANG– Nasib nelayan di pesisir Karawang sudah di ujung tanduk. Saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Rabu (6/5) lalu. Harga ikan dan rajungan seketika anjlok. Bahkan diakui para nelayan, harga rajungan sempat jatuh ke titik terendah selama tiga tahun terakhir.

Pantauan KBE di sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI) di Pantai Utara Karawang, Senin, (11/5) kemarin. Aktifitas jual-beli ikan di pesisir mulai berangsur normal. Diketahui, hal tersebut terjadi karena longgarnya pelaksanaan PSBB sepekan terakhir. Sejak dikeluarkannya aturan pembebasan transportasi umum oleh pemerintah pusat.

Hasilnya, harga sejumlah komoditi laut mulai berangsur membaik. Harga rajungan yang semulanya jatuh hingga Rp. 25.000 per kilogram. Kini sudah berada di angka Rp. 65.000 hingga 70.000 per kilogram.

Sementara, harga ikan kakap semula Rp. 35.000 per kilogram, kini menjadi Rp. 60.000 per kilogram. Begitupun ikan tenggiri, dari harga Rp. 30.000 per kilogram, kini menjadi Rp. 55.000 per kilogram. Sementara yang paling moncer, dirasakan oleh nelayan ikan teri. Pasalnya, harga “si kecil” itu kini stabil di angka Rp. 185.000 per kilogram, setelah sebelumnya anjlok di angka Rp. 90.000 per kilogram.

“Harga ikan sudah tinggi lagi. Tapi stoknya berkurang, karena sekarang sedang musim terang bulan. Hanya sedikit nelayan yang melaut,” ungkap Manager TPI Ciparagejaya, Kecamatan Tempuran, Kartono, kemarin, (11/5).

Dijelaskan, meskipun saat ini harga ikan mulai stabil. Namun, di musim terang bulan, ikan di laut tidak terlalu banyak. Karena biasanya, nelayan memanen ikan saat kondisi langit sedang gelap.

Kartono bilang, mayoritas nelayan yang memanfaatkan alat tangkap dengan penerangan, seperti nelayan Bagang dan Mayang, terpaksa harus istirahat dulu.

“Ya nelayan-nelayan dengan alat tangkap besar sekarang istirahat. Tapi, nelayan kapal kecil aktif beroperasi dan penghasilannya meningkat,” ujarnya.

Dari TPI Tangkolak, Desa Sukakerta, Cilamaya Wetan, Ketua Pokmaswas Nelayan Tangkolak, Tayanto mengatakan, kembali berangsur normalnya harga ikan terjadi lantaran akses ke pemasok mulai dilonggarkan sepekan terakhir.

Kata dia, biasanya menjelang hari Raya Idul Fitri, tempat makan seafood di ibu kota banjir pembeli. Begitupun restoran-restoran makanan laut di tempat hiburan banjir pengunjung. Artinya, suplay dari nelayan ke pemasok sedikit-sedikit mulai kembali normal.

“Ya kita berharap supaya pandemi ini segera berakhir. Agar kami para nelayan bisa beraktifitas dengan normal kembali,” harapnya.

Sementara, salah satu nelayan Pasir Putih, Desa Sukajaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, Khoerul Huda mengatakan, meskipun berangsur normal, namun hingga kini para nelayan enggan berangkat melaut. Pasalnya, hasil tangkapan beberapa hari ini dianggap tidak maksimal.

“Karena sedang terang bulan. Tangkapan jadi sedikit. Kalau berangkat melaut pun, hasilnya tidak akan menutupi modal solar dan pesangon,” ujarnya. (wyd/red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here