NGANGGUR: Perahu nelayan di Tangkolak, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan, hanya berbaris di dermaga.

Efek Domino Wabah Korona di Pesisir Karawang

Sepekan terakhir nelayan di Pantai Tangkolak, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan tidak pergi melaut. Pasalnya, harga rajungan dan ikan di pasaran merosot tajam. Menyusul, Pandemi Virus Korona yang membuat sejumlah restoran di ibu kota tutup.

WAHYUDIKarawang

Diketahui, sehari-hari nelayan Pantai Tangkolak pergi mencari ikan untuk di kirim ke sejumlah restoran di perkotaan. Sejak ada imbauan dari pemerintah pusat yang melarang warga berkumpul. Sejumlah restoran tutup. 
“Ditutupnya restoran di perkotaan, membuat suplay ikan dan rajungan ke restoran berhenti. Artinya, sekarang nelayan kami menganggur,” ujar Tayanto, ketua kelompok nelayan di Pantai Tangkolak, Rabu, (25/3) kemarin.
Yanto bilang, harga rajungan normalnya di kisaran Rp. 80.000 hingga 95.000 per kilogramnya. Namun sejak awal pekan kemarin, harganya merosot menjadi Rp. 30.000 per kilogramnya. Bahkan, sejumlah jenis ikan sudah tak laku lagi di pasaran.
“Kalau melaut pun ikannya sudah tidak laku. Karena tidak ada lagi restoran seafood yang beroperasi,” terangnya.
Menurut nelayan setempat, Candra Kirana. Sejak awal Maret 2020 ini, padahal waktu yang pas bagi nelayan memanen ikan dan rajungan di laut. Pasalnya, saat ini pasang air laut sedang mendukung operasi nelayan. Serta, jumlah ikan dan rajungan sedang melimpah.
“Kemarin kami baru pulang dari laut Sumatera. Bawa sekitar 3 kwintal rajungan. Sampai darat kita terkejut, rajungan sudah tidak laku. Ada yang mau beli, harganya sangat rendah Rp. 30.000 per kilo,” kata Canda menceritakan keluh kesahnya.
“Mau gak mau kita jual rendah, dari pada tidak laku sama sekali. Alhasil, pendapatan kami pun melorot,” keluhnya lagi.
Salah satu pemilik rumah makan seafood di Cilamaya, Barkah mengungkapkan, untuk meminimalisir kerugian. Pihaknya mengaku mengurangi jumlah pesanan ikan dan rajungan dari nelayan.
Pasalnya, sejak heboh Pandemi Korona di Karawang, jumlah konsumen seafood merosot tajam. Bahkan, sambung Barkah, dirinya mengalami penurunan omset lebih dari 50 persen.
“Warung tetap buka. Tapi stok yang kita kurangi. Karena pengunjung juga hampir tidak ada seminggu ini,” jelasnya.
Kara Barkah, meski pun harga rajungan dan ikan sedang turun. Ia mengaku tak berani membeli dalam jumlah banyak untuk stok. Ia khawatir, Pandemi Korona masih panjang. Yang nantinya akan membuat stok ikan dan rakungan busuk jika tak laku di jual.
“Tidak berani ah. Kalau tidak laku nanti busuk. Makin rugi saja kita,” kelitnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here