Total kasus covid-19 di Karawang dari awal pandemi sampai hari ini nyaris menyentuh 25.000 kasus. Angka kematian pun, hanya butuh satu lagi, bulat 900. Tiga hari terakhir angka kematian selalu menyentuh 50 orang, artinya setiap 30 menit sekali, di Karawang ada satu orang meninggal karena covid-19. Saatnya injak rem–evaluasi!

Saat ini kondisi hampir semua rumah sakit rujukan penanganan covid-19, statusnya penuh. Dari angka-angka yang terus naik, satgas covid-19 Karawang harus mulai memikirkan langkah-langkah strategis menginjak rem menekan penyebaran virus. Darimulai mengevaluasi efektifitas pembatasan sosial, penegakan hukum pelanggar protokol kesehatan, traccing, sampai sosialisasi disiplin prokes perlu dibenahi. Apalagi, Karawang menjadi salah satu daerah yang menjadi titik ditemukannya virus covid-19 jenis delta: yang lebih berbahaya dan awal muncul di India itu.
Kondisi ini diperparah dengan banyaknya tenaga medis yang ikut terpapar. Keadaan jadi lebih menghawatirkan, saat obat Covid-19 juga mulai langka di Karawang.
Di tengah kelangkaan obat ini. Pemkab Karawang juga kelimpungan karena habisnya peti mati. Saat ini Pemkab Karawang tengah belanja lagi peti mati. Bahkan, rencananya peti mati itu akan dititipkan di sejumlah kecamatan zona merah Covid-19. Penediaan peti mati pun menuai banyak kritikan lantaran Pemkab Karawang dianggap lempar handuk putih menangani pandemi.
Rencana pengadaan peti mati di tengah kelangkaan obat pun jadi sorotan. Salah satu tokoh masyarakat Karawang, Nace Permana yang juga ketua LSM Lodaya berpendapat, apa yang sedang dilakukan oleh Pemda Karawang itu. Seolah-olah menunjukan sikap pasrah dengan kondisi pandemi yang semakin parah.

“Kalau pemerintah saat ini lebih siap menyiapkan petu mati, kesannya Karawang ini sudah pasrah. Seharusnya mengantisipasi, bukan malah menunggu kejadian (kematian),” ungkap Nace, Sabtu, (26/6/2021) kemarin.
Saat dikonfirmasi KBE, Kepala Dinas Kesehatan Karawang, dr. Endang Suryadi membantah, jika upaya pemerintah menyiapkan peti mati ditengah kelangkaan obat Covid adalah sikap pasrah dengan pandemi.
Endang bilang, pengadaan peti mati sampai ke tingkat kecamatan itu, merupakan tindak lanjut dari hasil rapat koordinasi antara Bupati, Dinkes, dan para Camat di Karawang.
Selama ini, Satgas Covid-19 di tingkat kecamatan kewalahan dalam menangani proses pemakaman. Lantaran peti mati harus diambil ke Dinkes Karawang yang notabene jaraknya cukup jauh. Untuk mempermudah prosesnya, peti mati itu rencananya akan dititipkan di tiap kecamatan.
“Para camat mengeluhkan lamanya proses pemakaman, karena harus mengambil peti mati ke Dinkes (dengan jarak yang cukup jauh). Dalam rapat saya sarankan, untuk pengadaan peti mati jangan di Dinkes. Kembalikan lagi ke PRKP, sesuai yang selama ini menangani pemakaman,” papar Endang, saat diwawancara KBE, minggu (27/6/2021) via telpon.
Disinggung soal kelangkaan obat Covid-19 di Karawang, Endang mengakui, jika hal itu memang benar adanya. Tingginya kasus positif Covid-19 belakangan ini. Membuat permintaan obat-obatan untuk pasien Covid juga meningkat tajam.
Endang mengakui, untuk memastikan ketersedian obat tetap aman. Saat ini pihak Dinkes Karawang tengah membatasi pendistribusian obat ke puskesmas-puskesmas. Dinkes Karawang hanya mengirim obat sesuai permintaan atau order dari puskesmas.
“Kita masih sedang proses untuk segera menambah stok yang cukup. Saat ini (obat) masih ada, cuma suplay ke puskesmas-puskesmas memang sedang diperketat,” ungkapnya.
Di sisi lain, Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penanganan Covid-19 Karawang, dr. Fitra Hergyana menyampaikan, saat ini Karawang kekurangan tenaga kesehatan untuk penanganan covid-19. Karena, para dokter, perawat maupun petugas lain di bidang kesehatan banyak yang terpapar.
“Jujur ini berat sekali. Pasien terus bertambah. Tenaga kesehatan kami banyak yang terpapar, ruang inap di RS juga penuh,” ujar Fitra.
Kondisi seperti ini membuat Pemkab bergerak cepat dengan mengirimkan surat permohonan bantuan tenaga kesehatan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Beberapa tenaga medis yang sangat dibutuhkan yakni dokter dan perawat.
“Masyarakat yang mau jadi relawan dalam menghadapi pandemi ini juga bisa daftar ke indorelawan.org,” ujar Fitra.
Tenda Darurat
Satgas Penanganan Covid-19 Karawang mulai memasang tenda darurat bencana di RSUD Karawang mengantisipasi kurangnya keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR). Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana mengungkapkan antisipasi kurangnya BOR RSUD, pihaknya telah menambahkan 39 kasur yang disediakan di tenda darurat.
“39 kasur itu berada di tenda darurat memang belum terpakai, namun kami menyiapkannya sebagai antisipasi bila BOR di RSUD penuh, tapi mudah-mudahan tidak terpakai,” ungkap Cellica yang juga Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Karawang, usai ditemui di lokasi vaksinasi GOR Adiarsa, Sabtu (26/6).
Sementara itu, dikonfirmasi melalui telepon selular, Kepala BPBD Karawang, Yasin mengungkapkan pihaknya bersama Yonif 305 telah mempersiapkan tiga buah tenda dengan ukuran 5×12 meter dan 4×5 meter, yang ditempatkan di lingkungan RSUD.
“2 buah tenda berukuran 5X12 bisa untuk menampung 20 pasien. Sementara 1 tenda berukuran 4X5 meter untuk penjaga. Sementara dari 305 meminjamkan 40 velbet,” ungkapnya.
Plt Dirut RSUD Karawang, Fitra Hergyana mengakui tingkat BOR lebih dari 90 persen. Oleh karenanya, penyediaan tenda darurat diharapkannya mampu mengantisipasi kekurangan kasur.
“Sudah lebih dari 90 persen ketersediaan kasurnya, tapi Alhamdulillah masih bisa tertampung, apalagi dengan adanya tenda darurat tersebut bisa menjadi antisipasi apabila terjadi lonjakan pasien covid-19,” tandasnya. (bbs/wyd/rie/mhs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here