MEROSOT: Petambak Garam di Desa Muarabaru, sedang melakukan pematangan tanah untuk produksi garam.

Jeritan Petambak Garam Pesisir Karawang di Tengah Pandemi

Produksi garam di pesisir Karawang lesu. Di tengah segala pergerakan yang sulit ini harga garam di pasar lokalpun merosot tajam. Lengkaplah penderitaan para petani garam Karawang.

WAHYUDIKARAWANG

Hal itu dieperparah dengan banyaknya garam yang masuk dari wilayah pantai Indramayu dan Cirebon, yang membuat harga garam di Karawang semakin merosot.

Mayoritas warga di Desa Muarabaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, berprofesi sebagai petani dan nelayan. Dari ribuan warga disana, 130 diantaranya, mengais rezeki dari tambak garam.

Desa Muarabaru, memang dikenal sebagai pemasok gram terbesar di Karawang. Setiap musim panen, ratusan kwintal garam disana diekspor ke luar daerah. Sebagian lagi, diserap oleh industri lokal di Karawang.

Akibat Pandemi Covid-19 yang melanda Kabupaten Karawang. Akifitas produksi garam disana menjadi lesu. Pasalnya, ditengah segala pergerakan yang sulit ini. Harga garam di pasar lokal merosot tajam.

Hal itu dieperparah dengan banyaknya garam yang masuk dari wilayah pantai Indramayu dan Cirebon, yang membuat harga garam di Karawang semakin merosot.

Akibatnya, ratusan kwintal garam mengendap di gudang. Karena para petambak tak mau menjual dengan harga Rp. 400 per kilogram.

“Pandemi ini bikin petambak garam lesu. Aktifitas produksi terpaksa dikurangi. Bahkan, sebagian lain terpaksa tidak produksi,” ungkap ketua kelompok petambak garam Desa Muarabaru, Suhari, kepada KBE, Senin, (10/8).

Suhari menceritakan, petambak garam itu bukan seperti buruh pabrik. Yang bekerja satu bulan, dan mendapat gaji di akhir bulan.

Untuk produksi garam, kata dia, diperlukan biaya operasional selama masa tanam. Sedangkan di masa panen, hasil produksi juga belum tentu dihargai mahal oleh tengkulak.

“Idealnya itu Rp. 1.000 per kilogram. Sekarang, hanya Rp. 450 sampai Rp. 500 per kilogram. Tidak menutup operasional,” keluhnya.

Tak cukup sampai disitu. Jika dilihat dari kondisinya, kata Suhari, petambak gram juga terdampak Covid-19. Namun, dari 130 kepala keluarga yang menghidupi keluarganya dari tambak garam. Hanya 16 keluarga yang tercover bansos dari Dinas Perikanan.

“Bansos perikanan itu Rp. 600 ribu untuk tiga bulan. Desa Muarabaru cuma dapat 16 KPM. Sisanya harus terima dengan keadaan,” ucapnya.

Sementara, Kepala Desa Muarabaru, Ato Sukanto mengatakan, dalam situasi serba sulit ini. Pihaknya berharap, kehadiran pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah, untuk melindungi seluruh hak-hak masyarakatnya.

“Kalau petani padi kan ada semacam Bulog atau Satgas Pangan, yang mengendalikan harga jual padi. Harusnya, pada industri garam juga ada hal serupa,” pintanya.

Soal distribusi bantuan sosial yang tak merata, kata Ato, pemerintah desa seolah-olah selalu menjadi kambing hitam. Padahal, kata dia, baik bansos pertanian maupun perikanan. Pemerintah desa sama sekali tak mengetahui proses pendataannya.

“Desa selalu jadi yang disalahkan. Kasihan perangkat desa, selalu jadi kambing hitam,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here