**Takut Suara Air hingga Speaker Masjid

KARAWANG– Sejak awal tahun 2020, sudah empat kali Perumahan Pratama Permai, di Desa Tegalwaru, Kecamatan Cilamaya Wetan, terendam banjir luapan Sungai Cilamaya.

Sebanyak 726 jiwa dari 250 rumah disana, jelas mengalami gangguan psikologis yang cukup berat. Selain mengalami kerugian materil yang tak sedikit. Banjir berkali-kali dalam jangka waktu sangat dekat, membuat warga Cilamaya mengalami ketakutan dengan hal-hal yang berkaitan dengan banjir.

Salah satu warga RT 09 Dusun Ondang 1, Perumahan Pratama Permai, Andri menjelaskan, rasa takut dan trauma menghantui warga Desa Tegalwaru setiap mendengar pengumuman banjir dari speaker masjid disana.

Andri bilang, selain stres karena pekakas dan prabotan rumah tangga mereka habis direndam air. Terganggunya kesehatan anak-anak disana juga menjadi beban tambahan yang dialami warga Perum Pratama Permai.

“Asal Toa masjid bunyi saja kami sudah was-was. Takut sama pengumuman banjir. Sudah cape kami, empat kali kena banjir dalam waktu yang sangat berdekatan,” keluhnya, kepada awak media, Selasa, (25/2).

Warga lain, Mustolih mengatakan, kondisi psikologi istrinya mulai terganggu. Lantaran terus dihantui rasa takut akan banjir susulan. Hal tersebut diperparah dengan banyak beredarnya berita-berita hoax, yang menbuat warga jadi semakin ketakutan.

“Dengar suara air mengalir aja sampai gemetar pak. Kalau begini terus bisa stres beneran kita tuh,” katanya.

Tokoh masyarakat Perum Pratama Permai, Somantri menuturkan, sudah berulang kali warga Desa Tegalwaru mengajukan kepada BBWS untuk segera melakukan normalisasi Sungai Cilamaya. Serta memperbaiki tanggul-tanggul yang jebol.

Somantri bilang, akibat banjir berkali-kali. Warga Desa Tegalwaru sudah mengalami kerugian materi yang tak sedikit. Bahkan, Somantri mentaksir, per kepala keluarga kerugiannya sampai belasan juta rupiah.

“Saya taksir kalau semuanya dikalulasi, ya ratusan juta rupiah kerugiannya,” terangnya.

Ketua RT setempat, Nur Muhid menambahkan, saat ini warga di pengungsian sangat menbutuhkan makanan ringan dan selimut untuk tidur. Pasalnya, informasi yang ia dapat dari BPBD dan tim evakuasi. Air kiriman dari Bendungan Barugbug masih mengalir ke Cilamaya. Kemungkinan besar, kata dia, banjir kali ini akan memakan waktu cukup lama.

“Tolong kepada donatur dan pemerintah, saat ini warga di pengungsian butuh makanan dan selimut,” pintanya.

Hingga berita ini di tulis, ratusan rumah di 6 desa se-Kecamatan Cilamaya Wetan masih tergenang banjir dengan ketinggian bervariatif. Dari 30 centimeter hingga 1,2 meter. (wyd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here