Sumber foto: net DIBONGKAR: Pemkab Karawang kesal dengan adanya pemasangan dinding turap di tengah Sungai Cibeet oleh seorang oknum pengusaha di Kabupaten Bekasi yang disinyalir dilakukan untuk keperluan usaha ---pembangunan waterpark--.

KARAWANG- Pemkab Karawang kesal dengan adanya pemasangan dinding turap di tengah Sungai Cibeet oleh seorang oknum pengusaha di Kabupaten Bekasi yang disinyalir dilakukan untuk keperluan usaha —pembangunan waterpark–.  Namun dampaknya, aktivitas tersebut merubah bentuk dan mempersempit sungai. Hal itu dikhawatirkan menyebabkan banjir di Karawang.

Sekda Karawang Acep Jamhuri menuturkan tak segan membawa masalah itu ke ranah hukum. “Hari Senin besok (27/1) semua yang terlibat dalam kegiatan tersebut dipanggil ke Balai BBWS. Kelihatannya ini harus lanjut di ranah hukum,” kata Sekda Karawang Acep Jamhuri kepada awak media melalui telepon, Sabtu (25/1).

Acep menuturkan telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum ihwal pemasangan sheet pile atau dinding turap tersebut. “Kita sudah komunikasi dengan BBWS. Pasti akan ditindak,” tutur Acep.
Kabid Hukum dan Humas BBWS Citarum Budi Gunawan menyatakan telah menerjunkan tim untuk memantau ke lokasi kejadian. Ia membenarkan bakal segera memanggil pengusaha yang memasang dinding turap tersebut.

“Kita akan panggil sejumlah pihak bertanggungjawab terhadap proyek tersebut untuk dimintai keterangan. Selain itu dalam rapat nanti, kita akan bahas soal pembongkaran pancang-pancang dan aliran sungai yang telah diurug,” tegas Budi saat dikonfirmasi melalui telepon, Sabtu (25/1).


Sebelumnya dikabarkan, seorang pengusaha memasang deretan balok beton di tengah Sungai Cibeet. Dinding turap itu membentang dari wilayah Kampung Ciranggon RT01, RW01, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi. Tujuannya, diduga untuk membuat waterpark.

Sejumlah foto menunjukkan jika anak sungai Citarum itu menyempit. Sebab di beberapa bagian, tepi sungai telah diurug tanah oleh alat berat.
Sementara itu, Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Budiyanto mengatakan kasus ini harus ditinjau dahulu dari urusan perizinannya.

“Walau pun jika benar itu dibangun diatas tanah hak miliknya, maka perizinan yang ada harus ditinjau sesuai syarat syarat dan ketentuan yang berlaku” ujarnya.

Lebih jauh, pria lulusan IPB ini mengatakan bahwa dengan munculnya kasus ini juga timbul permasalahan mendasar yang dialami oleh warga di bantaran Sungai Cibeet, baik di Karawang mau pun di Bekasi yang selama ini tak pernah muncul, yakni kasus tanah yang terabrasi oleh sungai. Di beberapa wilayah, ada tanah warga yang terkena abrasi oleh sungai Cibeet.

“Sebagai contoh, di wilayah Pasir Tanjung dan Cipayung, Bekasi, tanah warga tergerus aliran sungai, sehingga ada sertifikat yang tanahnya hilang akibat proses alam ini. Begitu pun di Karawang, saya yakin hal ini pasti terjadi” lanjut Budiyanto.

“Di sinilah seharusnya pemerintah, bupati dan wakil bupati baik Karawang mau pun Bekasi hadir menyelesaikan masalah ini baik secara adat atau secara hukum” tegasnya.


Wabup Karawang lapor gubernur

Wakil Bupati Karawang, Ahmad Zamakhsyari melaporkan proyek pembangunan tempat rekreasi Dwi Sri Waterpark di Kampung Ciranggon, RT 001/001, Desa Cipayung, Kecamatan Cikarang Timur, Kabupaten Bekasi ke Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil.

“Saya sudah langsung lapor ke gubernur. Dalam waktu dekat Kang Emil ngirim tim pemprov untuk cek lokasi langsung,” kata Jimmy kepada awak media.

Sementara itu masyarakat Desa Mekarmulya, Telukjambe Barat, menolak adanya aktivitas pengurugan setengah aliran Sungai Cibeet yang dilakukan pelaku oknum pengusaha waterpark di Desa Cipayung, Kabupaten Bekasi. 

Hampir lima meter oknum pengusaha Kabupaten Bekasi tanpa izin melakukan pemancangan dan pengurugan Sungai Cibeet, padahal tepat di seberang dua buah kampung di Desa Mekarmulya terus terkena banjir imbas luapan Sungai Cibeet.

“Penyempitan sungai jelas terjadi. Kami sangat khawatir banjir terus menghantui warga kami,” ungkap Kepala Desa Mekarmulya, Dalim Rudyansah kepada wartawan.

Lanjut Dalim, pihaknya telah melaporkan hal tersebut kepada BPBD Karawang, untuk ditindaklanjuti berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bekasi. “BPBD Karawang sudah cek ke lapangan. Saya belum tahu hasilnya,” ungkapnya.

Endis Supriatna (39) salah seorang warga Dusun Mujiah, Mekarmulya mengaku banjir beberapa pekan lalu yang menimpanya tak seperti biasanya. Banjir semakin meluas merendam sedikitnya 50 rumah. Ia menduga adanya penyempitan sungai karena proyek tersebut sehingga air tersumbat tak mengalir.

“Biasanya kalau Mujiah banjir, wilayah Bojong itu banjir. Tetapi kemarin itu tidak terjadi,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Karawang, Yasin Nasrudin mengaku pihaknya belum mengadukan hal tersebut kepada pihak mana pun. “Kita rencana mau buat kajian dulu,” katanya.

Sedangkan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum telah melakukan pemantauan ke lokasi proyek pengurugan Sungai Cibeet. “Tapi saya yakin kalau di badan sungai gitu pasti gak ada ijinnya. Tim saat ini tengah melakukan pemantauan,” kata Kabid Hukum dan Humas BBWS Citarum Budi Gunawan.

Budi menyatakan, team dari BBWS pun telah penghentian dan melarang proyek pengurugan Sungai Cibeet untuk waterpark tersebut. Pihaknya pun bakal segera melakukan pemanggilan kepada sejumlah pihak bertanggungjawab terhadap proyek tersebut untuk dimintai keterangan.

Selain itu dalam rapat nanti, termasuk pembongkaran pancang-pancang dan aliran sungai yang telah diurug bakal dibahasnya. (mhs/rie)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here