Waduh, Stunting Hantui Balita di 54 Desa se-Karawang

0
67
Ilustrasi

KARAWANG – Kabupaten Karawang menempati urutan ke 13 dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, sebagai wilayah yang masuk dalam Program Proyek Nasional (ProPN) penanganan stunting.

Hasil riset kesehatan dasar tahun 2013. Sebanyak 10 desa di 7 kecamatan di kota pangkal perjuangan, terpapar stunting. Beberapa di antaranya, bahkan ditetapkan sebagai wilayah terpapar stunting terparah di Jawa Barat.

Berdasarkan data yang KBE peroleh dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Karawang. Ke 10 desa terdampak stunting tersebut diantaranya, Desa Kamurang di Kecamatan Tirtamulya, Desa Ciptamarga di Kecamatan Jayakerta, Desa Srikamulyan di Kecamatan Tirtajaya, Desa Baturaden di Kecamatan Batujaya, Desa Sukakerta di Kecamatan Cilamaya Wetan, Desa Pemekaran dan Gembongan di Kecamatan Banyusari, serta tiga desa di Kecamatan Kutawaluya. Diantaranya, Desa Kutagondok, Sindangkarya, dan Mulyajaya.

Menariknya, ditengah gencarnya OPD Karawang menggalakan ProPN. Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, justru merilis 44 desa baru di Karawang, sebagai wilayah terdampak stunting. Bahkan, rilis dari Dinkes Karawang telah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.

“Jadi saat ini, di Karawang ada 54 desa terdampak stunting,” ungkap Kabid PKK, DPPKB Karawang, Dodo J. Abduh, kepada KBE, kemarin, (7/11) di sela-sela pembinaan stunting, di Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan.

Dodo mengatakan, meningkatnya jumlah desa terdampak stunting bukan harapan dari seluruh OPD yang menjalankan ProPN. Hasil rilis yang menyatakan peningkatan desa terpapar stunting tersebut, ditanggapi oleh DPPKB dengan peningkatan program 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Dengan target ibu-ibu dan remaja putri, di usia subur

“Kami galakan program 1.000 HPK ini. Target sasarannya ibu-ibu dan remaja. Karena mereka merupakan corong utama, yang bisa menekan penurunan kasus stunting ini,” jelasnya.

Masih kata Dodo, hasil riset yang timnya lakukan menyimpulkan, beberapa penyebab terjadinya kasus stunting di desa-desa ini, diantaranya kebersihan lingkungan, konsumsi gizi ibu hamil, kesalahan pola asuh, kualitas air, hingga ketersediaan sanitasi dan MCK di lingkungan mereka.

“Kita berikan pemahaman, kita lakukan pembinaan, kemudian didukung dengan pembangunan oleh perintah desa. Kami yakin, kasusu stunting ini, bisa kita berantas dari bumi Karawang,” ungkapnya.

Guna mempercepat pemberantasan stunting tersebut, kata Dodo, pihaknya menargetkan, dalam waktu dekat, seluruh ibu dan remaja di usia subur, sudah mendapat pemahaman program 1.000 HPK.

“DPPKB saat ini fokus dengan menerapkan pola komunikasi, informasi, dan edukasi. Kita semua sedang bersiap menghadapi Bonus Demografi di tahun 2045 mendatang. Mudah-mudahan, sebelum sampai sana, Karawang sudah bebas stunting,” pungkasnya. (wyd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here