Kampung Maranggi Plered, Tempat 120 Pedagang Sajikan Kelezatan

Selain kota keramik, nama Plered juga diidentikan dengan wisata kuliner “Kampung Maranggi”. Kampung Maranggi adalah area luas sejenis food court yang menjadi lokasi berkumpul para pedangang sate maranggi.

HASAN KOBRAPurwakarta

Sate maranggi adalah sate daging sapi atau kambing yang dalam pengolahannya daging tersebut terlebih dahulu direndam dengan berbagai jenis rempah. Bumbu dari sate maranggi di Kampung Maranggi ini biasanya berupa kecap pedas dengan campuran cabai yang rasanya sangat unik dan berbeda dari sate kebanyakan.
Rasanya berbeda dari bumbu sate lainnya. Selebihnya, sate maranggi ini masih tetap menggunakan sambal kecap juga sambal kacang seperti pada umumnya.
Yang paling menarik dari sate maranggi di Kampung Maranggi ini adalah cara penyajiannya. Setelah kita memilih kedai untuk menyantap sate, sang pedagang akan langsung membakar sate di hadapan tempat duduk dan menyajikannya langsung setelah matang.
Sate akan terus dibakar sampai kita meminta pedagang tersebut untuk berhenti. Satu tusuk sate hanya terdiri dari tiga potong daging dengan ukuran yang menurutku kecil namun hal tersebut membuat setiap gigitannya terasa pas dan menggoda kita untuk terus menyantapnya.
Area wisata kuliner Kampung Maranggi ditempati oleh sekitar 120 pedagang. Sebelumnya mereka adalah pedagang sate maranggi yang berjualan di pinggir jalan atau secara berkeliling.
Selain sate, kita juga bisa memesan sop sapi dengan harga yang relatif terjangkau, yaitu Rp. 15.000/mangkuk. Untuk nasi putih harganya Rp. 3.000.
Di tempat ini kita juga bisa memesan minuman seperti es jeruk dengan harga Rp. 10.000 atau teh manis. Untukku pribadi teh hangat yang disediakan penjual sudah cukup melengkapi kenikmatan sate maranggi di Plered ini.
Lokasi Kampung Maranggi dibangun di dekat kawasan Stasiun Kereta Api Plered sebagai salah satu upaya Pemkab Purwakarta untuk meningkatkan potensi Maranggi yang merupakan kuliner khas Kabupaten Plered. Sejak diresmikan pada April 2016, Kampung Sate Maranggi di Kecamatan Plered Kabupaten Purwakarta ini telah menjadi incaran para pencinta kuliner dari berbagai kota.
Upaya pembangunan area wisata kuliner ini juga dinilai dapat mendorong adanya pengembangan bidang agro bisnis dan kepariwisataan di kawasan Purwakarta. Dengan adanya Kampung Maranggi diharapkan kunjungan wisatawan ke Purwakarta bisa terus meningkat dan melahirkan kembali ekonomi kreatif masyarakat.
Kini Pemkab Purwakarta berencana menata sentra kuliner Kampung Maranggi menjadi salah satu destinasi wisata di Purwakarta yang harus ditata dengan baik dan nyaman.
Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (KUPP) Kabupaten Purwakarta Karliati Djuanda mengatakan sentra sate maranggi memang menjadi salah satu ikon Purwakarta. Sate maranggi sebagai kuliner khas Purwakarta masih menjadi daya tarik wisatawan.
Karenanya ke depannya akan dicoba untuk ditata sebagai wisata yang terintegrasi dengan potensi lainnya yang sedang digali seperti peternakan sapi dan domba hingga proses penyembelihannya. “Akan kita tata disini (Sentra Sate Maranggi), nanti kita lihat kedepannya karena penyembelihan kan harus ada rekom juga dari peternakan syarat-syaratnya,” kata Karliati, Rabu (5/8).
Ia mengatakan untuk pembenahan dalam waktu dekat juga akan dilakukan. Dimulai dengan penataan tata letak pedagang juga pengecatan ulang bangunan agar terlihat lebih bagus dan rapi. Sehingga Kampoeng Maranggi ini bisa lebih nyaman bagi para pengunjung dan pecinta kuliner khas tradisional.
Menurutnya, penataan menjadi wisata terintegrasi akan dikoordinasikan bersama Dinas Pariwisata untuk menggali potensi yang bisa dikembangkan. Pihaknya ikut bertanggungjawab karena para pedagang yang berjualan di sentra berada di bawah naunga. Dinas KUPP.
”Kita dari sisi pedagangnya dan perwakilannya nanti sama pariwisata. Sebenarnya perdagangan di sini masih bagus, hanya pengurangan pada saat PSBB kemarin saja, malam minggu masih ramai,” tuturnya.
Ia menyebutkan berdasarkan data ada 96 pedagang legal yang memiliki izin berjualan di Sentra Maranggi Plered ini. 40 di antaranya merupakan pedagang sate maranggi. Nyatanya ada beberapa pedagang ilegal yang berjualan tapi tidak terdaftar di Dinas KUPP. Para pedagang ini akan ditertibkan agar Sentra Sate Maranggi tidak terlihat kumuh.
“Tapi penindakan (pedagang ilegal) kita juga harus dengan cara yang humanis,” ujarnya. Sementara itu, Anggota DPR RI asal Purwakarta yang juga mantan Bupati, Dedi Mulyadi memberi masukan agar Sentra Sate Maranggi ditata menjadi wisata integrasi.
Ini mengingat potensi yang ada di sekitar lokasinya bisa dimanfaatkan untuk pengembangan kepariwisataan. Dedi mengatakan Sentra Maranggi berada di dekat stasiun kereta api. Stasiun ini harus dimanfaatkan menjadi penarik daya minat wisatawan untuk datang.
“Ini kan potensinya sudah serba ada, tinggal megintegrasikan dan berani melakukan tindakan. Karena faktanya sekarang kumuh. karena kesadaran pedagangnya juga rendah. Kan pedagangnya gratis tapi hanya untuk nyapu saja malas,” kata Dedi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here