BELAJAR MANDIRI: Para siswa di sekolah ekologi di Purwakarta diarahkan untuk ahli dalam hal kemandirian pangan.

Melihat dari Dekat Kegiatan Belajar di Sekolah Ekologi Kahuripan Purwakarta

Kemandirian pangan adalah tema besar yang sudah lama didengungkan, namun seolah terpisah dari output sistem pendidikan kita. Disdik Purwakarta mencoba sistem pendidikan yang mengarah ke tujuan itu. Dan sekolah ekologi hadir sebagai model untuk pendidikan ke depan.

HASAN KOBRAPurwakarta

Adalah Dinas Pendidikan (Disdik Kabupaten Purwakarta memproyeksikan sekolah ekologi sebagai gugus terdepan dalam meracik kemandirian pangan. Sekolah ekologi, nantinya menjadi proyek transformasi pendidikan di era revolusi industri 4.0.

Kepala Dinas Pendidikan Purwakarta Dr. H. Purwanto mengatakan, saat ini, penguasaan wawasan ekologi di tenaga pengajar dan peserta didik sangat penting. Disdik Purwakarta sudah memiliki pilot project sekolah ekologi ini di Sekolah Ekologi Kahuripan.

“Sebagai percontohan, kami punya Sekolah Ekologi Kahuripan. Tata kelola pendidikan di sekolah ini didorong memiliki tatanan yang baik. Mulai dari penataan kultur, dan penjalanan kebijakan pendidikan Pemkab Purwakarta. Sehingga, ke depan sekolah ini memiliki keunggulan,” kata Kepala Disdik Purwakarta .

Sekolah ekologi cukup strategis untuk menciptakan iklim kemandirian pangan. Sekolah ekologi dapat menjadi pabrik tanaman, yang ekosistemnya terawat.

“Tentu, sebagai bagian dari kesadaran ekologi, lingkungan sekolah harus bersih. Kemudian, tanamannya harus hijau. Sekolah ekologi harus memiliki kesadaran bersama dalam tata kelola sekolah,” ujar Kepala Disdik Kabupaten Purwakarta. 

Dalam dekat ini pihaknya tengah mencanangkan program tatanen di Bale Atikan. Bertujuan untuk mengasah, mengembalikan kultur anak-anak Purwakarta agar peka terhadap lingkungan.

“Saya ingin setiap peserta didik memiliki satu jenis tanaman seperti menanam sayuran, saledri, bawang daun, cabai rawit dan jenis tanaman yang memberikan manfaat untuk kebutuhan hidup. Kemudian mereka merawatnya dengan penuh kedisiplinan, tanggungjawab dan keuletan,” kata Purwanto.

Mengenai diskursus sekolah ekologi, Jajaran manajemen Sekolah Ekologi UPTD SMP Negeri 10 usai menggelar In House Training (IHT) Pengembangan Perangkat Kurikulum 2013 Tahun pelajaran 2020-2021 Sekolah Ekologi UPTD SMP Negeri 10 Purwakarta (19/8/2020) lalu.

Kepala Sekolah SMP Negeri 10 Purwakarta, Hj. Neneng M Patimah mengatakan, kegiatan itu bertajuk “Meningkatkan Kompetensi Kreatif dan Adaptif menuju Transformasi Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0” diikuti 15 orang guru dan warga sekolah di lingkungan Sekolah Ekologi. 
Dalam agenda ini, hadir Konsultan Sekolah Ekologi Mohamad Irfan Evrizal, sebagai narasumber workshop. 
“Melalui kegiatan tersebut, kami berharap ada stinulus untuk para guru guna menghasilkan karya yang unggul luar biasa. Khususnya berkenaan dengan sekolah ekologi,” demikian kata Hj. Neneng M Patimah sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 10 Purwakarta.
Sekolah Ekologi Kahuripan
Kadisdik menjelaskan, Sekolah Kahuripan yang berlokasi di Perum Dian Anyar, Kelurahan Ciseureuh (SDN 8 Ciseureuh) akan dijadikan sekolah percontohan dengan terapan kurikulum dan program berbasis lingkungan, atau Sekolah Ekologi.
Workshop hadiri oleh seluruh warga sekolah dilingkungan SD dan SMP Kahuripan, dengan menghadirkan narasumber, Bayu Ludvianto yang menyampaikan persepsi multipihak, Founder Self Learning Institute Muhammad Irvan Efrizal dan Direktur Bank Sampah Nono Juarno dan Kasie Pemeliharaan Lingkungan DLH Kabupaten Purwakarta.
Kadis mengatakan, sekolah ini harus mempunyai karakter yang berasal dari nilai – nilai kearifan lokal, dekat dengan alam dimana kita hidup. Sengaja didesign bangunan sekolah terbuka, karena udara di Purwakarta itu panas, kemudian para kepala sekolah dan guru, Sehingga faham betul filosofi karena apa sekolah ini didirikan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here