Hayo Lho, PJT II Diduga Buka Lapak Kotor Jual-Beli Air

Hayo Lho, PJT II Diduga Buka Lapak Kotor Jual-Beli Air
PENGAIRAN : Plt Camat Ciwet bersama UPTD Pertanian Ciwet, saat menggeruduk Kantor PJT ll Telagasari. (WAHYUDI/KARAWANG BEKAIS EKSPRES)
0 Komentar

KARAWANG- PJT
II Wilayah IV Telagasasri diduga memubaka lapak kotor jual-beli air. Dugaan itu
dicuragai para petanu di Kecamatan Cilamaya Wetan yang sampai saat ini lahan
sawah mereka masih mengalami kekeringan. Berbeda dengan para petani di hulu,
yang setelah panen langsung bisa massuk lagi pada musimtanam baru.

Kekeksalan para petani di
Cilamaya Wetan sudah tak bisa terbendung lagi. Mereka mengaku akan menggeruduk
kantor PJT II Wilayah IV Telagasasri dalam waktu dekat ini.

“Petani sudah siap untuk
demo pak. Mereka kesal, air di ujung tak pernah besar. Sementara di hulu yang
sudah melimpah. Masih ditambah debit airnya,” ungkap Alex, salah satu
petani Cilamaya, kemarin, (19/11).

Baca Juga:Bupati Diminta Putus BOT Pasar Baru KarawangRAPBD 2020: DPUPR Dijatah Rp 490 M, Bantuan Parpol Rp 1,7 M

Alex mengungkapkan, sudah berulang
kali petani Cilamaya menjerit meminta air ke PJT ll. Namun, hingga kini suara
mereka tak juga didengar. “Kita mengadu ke camat dan UPTD. Langsung
direspon, kita gruduk kantor PJT ll,” tukasnya.

Kepala Desa Muara Baru, Cilamaya
Wetan, Ato Sukanto menambahkan, kecurigaan petani bukan tanpa sebab. Selain
pengamat PJT ll untuk wilayah Cilamaya yang hingga saat sulit ditemui, di saat
yang sama berapa wilayah lain di bawah tanggung jawab PJT ll seksi Telagasari,
sangat melimpah ketersediaan airnya.

Sehingga, sambung Ato, mencul
kecurigaan petani Cilamaya memang ika permainan yang membuat air hanya mengalir
pada wilayah yang paling besar pemasukannya.

“Kalau tidak ada permainan.
Lalu pengebabnya apa? soal teknis? Buktinya, sudah diperbaiki masih tetap
begitu saja. Tak ada perubaha,” timpalnya.

Di tempat lain,  Kepala UPTD Pertanian Cilamaya Wetan, Wasma
menuturkan, praktik kotor lapak jual-beli air 
bukan suatu hal yang mustahil. dilakukan oknum koordinator PJT ll. Praktik
macam ini, kata dia, sudah lama terjadi. Namun, kata dia, memang sulit untuk
dibuktikan secara data, terkecuali oknum tersebut tertangkap basah saat
melakukan kecurangan tersebut.

“Banyak kok praktiknya.
Bahkan pengalman saya dulu di Rengasdengklok. Ada oknum pengairan yang digiring
dan dipecat. Karena ketahuan curang dalam membagi debir air,” imbuhnya.

0 Komentar