PROGRAM GASIBU : Program 1.000 Nasi Bungkus di Desa Muarabaru, Cilamaya Wetan, dikira Bansos Covid-19.

Gaduh Bantuan Nasi Bungkus Dikira Bansos Covid-19

Pemahaman masyarakat tentang Bantuan Sosial (Bansos) Covid-19, nampaknya perlu digenjot sosialisasinya. Terlebih, distribusi 9 pintu bantuan dilakukan berbeda-beda waktunya. Hal tersebut membuat masyarakat bingung. Alhasil, isu miring pun berterbangan di lingkungan masyarakat.

WAHYUDIKarawang

Seperti di Desa Muarabaru, Kecamatan Cilamaya Wetan. Lantaran Bansos BLT Dana Desa tak kunjung turun, warga mengira program bantuan Gerakan 1.000 nasi bungkus (Gasibu) yang dilakukan sesuai instruksi Bupati Karawang, dikira Bansos Covid-19.
Kepala Desa Muarabaru, Ato Sukanto mengungkapkan, kabar miring terus menyerang pemerintah desa. Seiring dengan belum turunnya sejumlah Bansos Covid-19 secara total. Warga yang bingung dan tak paham pun, akhirnya terbawa issu miring di lingkungan masyarakat.
“Banyak warga yang salah kaprah. BLT Dana Desa yang Rp. 600 ribu, katanya diganti cuma dengan nasi bungkus. Padahal, nasi bungkus itu program Gasibu. Sesuai arahan Bupati,” ungkap Ato, kepada KBE, Senin, (18/5) di ruang kerjanya.
Ato menjelaskan, tudingan miring yang datang tak ingin ditanggapi serius oleh ia dan perangkat desa. Kata Ato, sebentar lagi Bansos Covid-19 dari BLT Dana Desa akan cair. Menurutnya, biarkan aksi yang menjawab tudingan miring tersebut.
“Tidak, tidak perlu kita tanggapi serius. Nanti kita action saja. BLT Dana Desa cair pekan ini, dan akan membantah tudingan itu,” katanya.
Tak hanya di Cilamaya. Kasus salah kaprah program Gasibu juga terjadi di Desa Pasirtanjung, Kecamatan Lemahabang Wadas, pekan lalu. Bahkan, tudingan miring kepada Pemdes Pasirtanjung, dilakukan oknum masyarakat ditengah-tengah pelaksanaan Khutbah Salat Jumat di masjid desa.
Kepala Desa Pasirtanjung, Saepudin Betong menegaskan, BLT Dana Desa yang dialokasikan 30 persen dari Dana Desa tahap ll itu belum turun. Ada pun, nasi bungkus yang kemarin dibagikan adalah program Gasibu. Yang sebagian besar bahan bakunya, bersumber dari uang pribadi kepala desa.
“Saya geram, ada seorang tokoh yang mengatakan BLT Dana Desa yang besarannya Rp. 600 ribu per KPM, hanya turun berupa nasi bungkus saja di sela-sela khutbah salat Jumat, itu ngaco! Hoax!,” ujar Betong, tegas.
Kades Pasirtanjung itu bilang, BLT Dana Desa sudah diproses pengajuannya. Besarannya Rp. 600 ribu per KPM. Ada pun, jika lawan politiknya menggoreng issu tersebut. Ia mengatakan, kalau hal tersebut sangat tak masuk akal dan gagal faham.
“Kan belum cair, sudah disosialisasikan juga. Kalau ada yang melintir ke sana ke mari, itu dia gagal faham,” tandasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here